LINIKATA.COM, PATI – Luapan kekecewaan para peternak unggas di Kabupaten Pati memuncak dalam aksi unjuk rasa di depan Pendopo Kabupaten Pati, Senin (10/8/2026). Akibat harga telur dan daging ayam yang merosot tajam serta tingginya harga pakan, ratusan peternak nekat menggelar aksi teatrikal mandi telur hingga memakan ayam hidup-hidup.
Massa yang datang dari berbagai kecamatan memadati Alun-Alun Simpang Lima Pati sejak pukul 9.30 WIB. Mereka datang dengan membentangkan spanduk nada protes seperti “Turunkan Harga Pakan” dan “Endok Makanan Bergizi Regane Ora Entuk Sawit Siji”.
Dalam aksi tersebut, empat peternak sukarela dilempari ratusan telur oleh rekan-rekannya. Suasana makin mengejutkan saat seorang peserta demo nekat memakan ayam hidup di tengah kerumunan massa.
Aksi demonstrasi bahkan sempat memanas saat massa melempar telur ke arah gedung Pendopo Pati lantaran pihak jajaran pemkab tak kunjung keluar menemui mereka.
Ketua Asosiasi Peternak Unggas Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto, mengungkapkan bahwa aksi ini lahir dari rasa frustrasi mendalam atas sikap pemerintah pusat maupun daerah yang dinilai lambat merespons keterpurukan peternak rakyat.
”Aksi hari ini merupakan bentuk kekecewaan kami karena delapan tuntutan kami sama sekali belum terealisasikan. Harga telur dan daging ayam di tingkat peternak anjlok sampai Rp20 ribu per kilogram sejak empat bulan lalu. Padahal HAP pemerintah Rp24 ribu untuk telur dan Rp25 ribu untuk daging,” papar Agus, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Setahun Demo 13 Agustus, POS Undang ICW hingga Aksi di Alun-Alun Pati
150 Peternak Bangkrut
Anjloknya harga jual makin diperparah dengan tingginya pakan pabrikan yang terus melonjak hingga mencapai Rp490 ribu per sak (50 kg) dari harga normal Rp400 ribu. Kondisi ini membuat peternak menanggung rugi sekitar Rp5.000 hingga Rp6.000 untuk setiap kilogram produksi.
Masalah kian kompleks setelah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pati untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) enggan menyerap produk peternakan lokal. Pihak SPPG disinyalir lebih memilih membeli pasokan murah dari luar daerah meskipun kualitasnya meragukan.
”Hampir 25 persen peternak kita sudah tutup, ada sekitar 100 sampai 150 peternak yang gulung tikar. Kalau dibiarkan terus begini, peternak rakyat di Pati bisa habis semua,” tegas Agus.
Baca juga: Miris! 2 Truk Sampah Plastik dan Popok Berhasil Dikuras dari Sungai Juwana Pati
Pemkab Janji Panggil SPPG dan Kawal Regulasi Pakan
Suasana akhirnya mencair sekitar pukul 11.00 WIB ketika Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, bersama Ketua DPRD Pati, Ali Badrudin, berani turun menemui kerumunan massa.
Di hadapan peternak, Chandra berjanji akan memanggil jajaran manajerial SPPG untuk memastikan komitmen penyerapan komoditas telur dan daging ayam lokal.
”Masalah telur ini kami terus berkoordinasi, khususnya dengan BGN (Badan Gizi Nasional). Kami akan panggil teman-teman SPPG untuk penyerapan telur asli Kabupaten Pati. Mengenai harga pakan dan tuntutan lainnya, segera kami kawal ke pemerintah pusat,” janji Chandra.
Usai mendengarkan komitmen pejabat daerah, para peternak mengakhiri aksi dengan membagikan dua ton telur serta puluhan ayam pedaging secara gratis kepada warga yang berada di kawasan Alun-Alun Pati. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














