LINIKATA.COM, KUDUS – Di tengah kemarau yang membuat sumur warga mengering, bantuan air bersih menjadi sangat berarti bagi masyarakat Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.
Kali ini, bantuan datang dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya. Tak hanya menjalankan tugas jurnalistik, para jurnalis turut turun langsung membantu warga dengan mendistribusikan sebanyak 20 ribu liter air bersih pada Selasa (22/9/2026) sore.
Air tersebut disalurkan dengan mengisi sejumlah toren atau penampungan air yang telah tersedia di beberapa titik desa. Warga kemudian dapat mengambil air dari titik-titik penampungan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Resmi! Plt Bupati Pati Tetapkan Status Tanggap Darurat Kekeringan
Ketua IJTI Korda Muria Raya, Iwhan Mifthakhudin, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari bakti sosial IJTI Muria Raya dalam membantu masyarakat yang terdampak krisis air bersih. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan di sejumlah wilayah di Demak, Grobogan, dan Pati.
“Alhamdulillah untuk hari ini kami dari IJTI Korda Muria Raya kembali melaksanakan kegiatan bakti sosial membagikan air bersih. Sebelumnya kita membagikan di Demak, Grobogan, dan Pati. Kali ini kita di Kabupaten Kudus dengan total membawa 20 ribu liter air,” ujar Iwhan.
Menurutnya, bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban warga yang mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang. Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah pihak yakni PT Pura dan PT Djarum, sekaligus menjadi momentum memperingati Hari Jadi Kudus ke-477.
“Kegiatan ini kami harapkan bisa sedikit membantu warga masyarakat sehingga mereka bisa memanfaatkan air yang kami bawa. Kami juga berharap kemarau ini tidak berkepanjangan sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa,” bebernya.
Iwhan menjelaskan, penyaluran air dilakukan dengan mengisi toren yang tersebar di sejumlah titik Desa Setrokalangan. Sistem tersebut dinilai lebih memudahkan warga karena masyarakat dapat mengambil air dari lokasi penampungan terdekat.
“Pemerintah daerah sudah menyiapkan penampungan atau toren di beberapa titik. Jadi sistemnya kita mengisi toren-toren yang tersebar di desa ini. Kalau membutuhkan air bersih, warga bisa langsung ke titik-titik toren atau penampungan,” jelasnya.
Dampak Kekeringan Meluas
Sementara itu, Kepala Desa Setrokalangan, Didik Handono, mengatakan dampak kekeringan di wilayahnya terus meluas seiring belum turunnya hujan. Menurutnya, sumber air warga yang mengandalkan sumur dalam mulai mengering sehingga sebagian masyarakat terpaksa bergantung pada bantuan air bersih.
“Kondisi kekeringan di desa ini memang belum ada hujan atau kemarau yang panjang. Intinya yang terdampak ini bertambah dari hari ke hari. Itu dikarenakan sumber air warga dari sumur dalam memang sudah tidak ada,” ungkap Didik.
Baca juga: Kekeringan, Petani di Bungasrejo Pati Terpaksa Beli Air demi Selamatkan Padi
Di Desa Setrokalangan, sedikitnya terdapat sekitar 16 titik toren atau penampungan air dengan kapasitas bervariasi mulai dari 2.000 hingga 5.200 liter. Kekeringan mulai dirasakan warga sejak awal Agustus, dan Pemdes berinisiatif menggandeng Polres untuk pengeboran sumur.
Kondisi tersebut dirasakan langsung warga. Aziz, warga RT 04/RW 01 Desa Setrokalangan, mengaku kesulitan mendapatkan air bersih sudah sekitar dua pekan terakhir akibat sumur mengering.
“Kekurangan sudah ada dua mingguan. Sehari-hari kalau ada sanyo malam, kalau pagi dan sore mati. Jadi sumur-sumur pada kering semua,” ujar Aziz.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bersama warga lainnya kini mengambil air dari toren bantuan sebanyak kurang lebih 12 ember per hari untuk pagi dan sore.
“Kebutuhan sehari-hari nunggu bantuan. Alhamdulillah ada bantuan untuk mandi, untuk masak alhamdulillah bisa lancar. Setiap hari sekitar 12 ember, pagi dan sore ambil di toren,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin













