LINIKATA.COM, PATI – Dampak kemarau ekstrem akibat El Nino memukul para petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kekeringan parah membuat lahan pertanian merekah dan Sungai Silugonggo surut total untuk pertama kalinya. Demi menghindari ancaman puso (gagal panen), sebagian petani terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih dari truk tangki.
Kondisi ini salah satunya terlihat di Kecamatan Jakenan. Tanaman padi berusia muda yang sedang memasuki masa pengisian bulir terancam mati jika tanah dibiarkan mengering. Karena sumber air sungai sudah mengering, pasokan air bersih berbayar menjadi satu-satunya tumpuan.
Para petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp170.000 hingga Rp190.000 untuk satu truk tangki air. Biaya pengairan ini membengkak signifikan karena satu petak sawah membutuhkan hingga belasan tangki air.
Baca juga: Imbas Kemarau Panjang, Petani di Jambean Kidul Pati Nekat Utang Demi Buat Sumur Bor
Pengeluaran Membengkak Demi Selamatkan Padi
Petani muda asal Desa Bungasrejo, Antok, mengaku musim kemarau kali ini merupakan yang terberat. Selain biaya perawatan dan pupuk, ia kini harus menyiapkan dana jutaan rupiah hanya untuk pasokan air.
“Tahun-tahun sebelumnya air sungai masih ada, jadi masih bisa untuk mengairi. Sekarang sudah kering sama sekali. Mau tidak mau beli air tangki sekitar Rp180 ribu sampai Rp190 ribu per tangki. Biaya tanam otomatis membengkak,” ujar Antok saat ditemui di sawahnya, Kamis (17/9/2026).
Hal senada disampaikan Nawi, petani setempat lainnya. Ia rela keuntungan panennya tergerus demi menyelamatkan tanaman padi yang sudah dirawat selama dua bulan. Dalam sehari, Nawi dapat membeli setidaknya dua tangki air.
“Kalau kurang air tidak bisa panen. Lebih baik rugi sedikit untuk beli air daripada gagal panen sama sekali. Yang penting padi selamat,” kata Nawi.
Baca juga: Kemarau Panjang, Ribuan Hektare Sawah di Pati Terancam Gagal Panen
Lonjakan Permintaan Air dan Harapan Intervensi Pemerintah
Fenomena ini menjadi berkah tersendiri bagi penyedia jasa air tangki. Suharno, seorang pemilik truk tangki, mengungkapkan permintaan kiriman air ke area persawahan mulai melonjak sejak awal September 2026.
Kebutuhan air tiap lahan bervariasi tergantung kondisi tanah. Untuk tanah yang mulai retak (meletek), petani bisa memesan 6 hingga 12 armada tangki air per petak sawah. Air yang dipasok merupakan air bersih layak konsumsi karena sungai lokal sudah tidak lagi mengalir.
Perjuangan petani di Kecamatan Jakenan ini menuntut perhatian dan intervensi cepat dari pemerintah daerah maupun pusat. Bantuan krisis pengairan sangat dibutuhkan guna menekan biaya produksi dan menjaga stabilitas pasokan beras nasional dari ancaman iklim ekstrem. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin














