LINIKATA.COM, PATI – Dampak kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pati membuat para petani di wilayah setempat kian kelimpungan akibat terancam mengalami gagal panen.
Sejumlah tanaman padi milik warga mulai memprihatinkan lantaran minimnya pasokan air, sehingga petani terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi menyelamatkan tanaman mereka.
Kondisi sulit ini salah satunya dirasakan oleh para petani di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, yang usia tanam padinya rata-rata telah memasuki 70 hari.
Baca juga: Sungai Juwana Kering, Petani Karangrowo Pati Terancam Gagal Panen
Salah seorang petani setempat, Kamelan, menuturkan bahwa selama satu bulan terakhir pasokan air dari Sungai Juwana yang menjadi tumpuan utama irigasi telah mengering total.
“Umur 70 ini sudah mulai berbulir. Saatnya bulir itu terisi untuk kemudian menjadi gabah. Tapi kalau kering seperti ini, bulir itu tak bisa terisi akhirnya kering dan kosong,” terang Kamelan.
Ia menambahkan, pasokan air dari Waduk Logung juga tidak bisa diandalkan lantaran adanya kerusakan jaringan irigasi yang membuat air tidak sampai ke areal persawahan warga.
“Harapan satu-satunya cepat turun hujan. Kalau mengharapkan dari Kedungombo terlalu jauh sangat kecil mengharapkannya,” tambah dia.
Nekat Utang Demi Sumur Bor
Guna menyiasati krisis air tersebut, beberapa petani yang memiliki modal nekat membuat sumur bor mandiri di tengah sawah meski biayanya sangat tinggi.
Bagi petani yang tidak memiliki tabungan, mereka bahkan rela mengajukan pinjaman atau berutang demi menutup tingginya biaya pembuatan sumur hingga instalasi listrik.
“Sebagian petani sudah ada nekat. Jika yang tak punya tabungan ada yang sampai hutang. Digunakan untuk membuat sumur bor, belum lagi harus membuat jaringan instalasi listrik hingga dua kilometer karena berada di tengah sawah. Untuk sumur bor sendiri sekarang ini cukup mahal karena setidaknya butuh biaya hingga Rp 10 juta,” ujar dia.
Baca juga: Kemarau Panjang, Ribuan Hektare Sawah di Pati Terancam Gagal Panen
Harga Gabah Tinggi Tak Ternikmati
Kondisi ini membuat para petani hanya bisa pasrah, sebab momentum kenaikan harga gabah di pasaran saat ini justru tidak bisa mereka nikmati akibat ancaman puso.
Saat ini harga gabah berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp8.500 per kilogram, mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu yang berada di angka Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram.
“Harga gabah padahal lumayan bagus dibandingkan tahun lalu. Dulu antara Rp 7,5 hingga Rp 8 ribu sekarang bisa Rp 8 hingga Rp 8,5 ribu bahkan bisa lebih. Tapi kondisi tanaman seperti ini. Belum lagi butuh biaya yang sangat tinggi karena dampak kekeringan,” pungkasnya. (LK2)
Editor: Ahmad Muhlisin














