LINIKATA.COM, PATI – Perkembangan media digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi sorotan serius para guru sosiologi di Kabupaten Pati. Menghadapi ledakan teknologi, para pengajar dituntut bijak dalam menyaring informasi untuk bahan pembelajaran.
Melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Kabupaten Pati, puluhan guru menggelar diskusi mendalam pada Kamis (16/4/2026). Diskusi ini menghadirkan jurnalis sebagai narasumber untuk membedah etika media dan alat verifikasi informasi.
Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Pati, Suhadi, menekankan pentingnya literasi digital bagi guru agar mampu membimbing siswa di tengah banjir informasi.
Baca juga: Tegas! Plt Bupati Pati Larang Iuran Sekolah dan Wisata Luar Daerah
“Kami menggelar diskusi dengan mengangkat literasi dan etika media karena itu penting bagi dunia kami. Kami menggunakan dunia digital untuk pembelajaran, tentu siswa kami juga menggunakannya,” ujar Suhadi.
Memilah Sumber Pembelajaran
Kehadiran jurnalis dalam diskusi ini diharapkan memberikan perspektif baru bagi para guru mengenai metodologi verifikasi data. Hal ini krusial agar produk pembelajaran yang dihasilkan benar-benar valid dan sehat.
“Bagaimana menggunakan media digital yang sehat untuk pembelajaran. Sehingga bapak ibu guru mampu memilih, memilah, dan memverifikasi media digital mana yang pantas jadi sumber untuk membuat produk pembelajaran yang pas,” ucapnya.
Tantangan Kecerdasan Buatan (AI)
Selain media digital, keberadaan AI juga menjadi bahasan hangat. Meski menawarkan kemudahan dalam mengolah data, teknologi ini dinilai membawa kerentanan jika tidak disikapi dengan posisi kemanusiaan yang tepat.
Baca juga: Gawat! 31 Kepala Sekolah di Pati Terancam Dicopot, Ada Apa?
“AI saya kira kedepan akan lebih seperti jualan kacang namun kami harus bertaruh pada posisi kita sebagai manusia. Kami berharap sebagai pengguna,penggunaan AI cukup untuk olah data. Jangan dijadikan segala-galanya,” tegas Suhadi.
Melalui kegiatan ini, para guru sosiologi di Pati diharapkan tetap menjadi filter utama bagi siswa dalam menyerap kemajuan teknologi tanpa kehilangan nalar kritis.
Editor: Ahmad Muhlisin














