LINIKATA.COM, KUDUS – Gelombang panas dan kekeringan akibat fenomena El Nino mulai memukul stabilitas harga pangan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dua komoditas utama yang mengalami lonjakan harga paling mencolok adalah beras dan cabai rawit merah.
Kondisi tersebut terlihat jelas saat pemantauan di Pasar Bitingan, selain beras dan cabai, tren kenaikan harga juga menular ke komoditas lain seperti bawang merah, gula pasir, sayur-mayur, hingga pasokan daging ayam.
Tutik Asiani, salah seorang pedagang bahan baku dapur, mengungkapkan bahwa cuaca kering berkepanjangan menjadi pendorong utama merangkaknya harga barang dagangan. Cabai rawit merah kini dibanderol Rp60.000 per kilogram, melonjak dari posisi pekan sebelumnya di kisaran Rp50.000.
Sedangkan cabai merah keriting dan cabai rawit putih masing-masing merambat ke angka Rp30.000 dan Rp35.000 per kilogram, alias naik sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000.
Baca juga: Diklaim Hemat 50 Persen, Petani di Pati Inovasi Buat Pupuk Cair Nitrobacter
Kenaikan Harga Komoditas Bumbu Dapur
“Pengaruh musim kemarau memang ada, tapi sejauh ini eskalasi harganya belum terlalu drastis. Cabai rawit merah yang tadinya di kisaran Rp55.000 sekarang naik ke Rp60.000. Komoditas lain kurang lebih sama,” ujar Tutik, Rabu (2/9/2026).
Kenaikan serupa menimpa pasokan bawang merah lokal. Komoditas berukuran besar saat ini dipasarkan seharga Rp30.000 per kilogram, sementara grade di bawahnya dijual Rp28.000. Keduanya terkoreksi naik sebesar Rp3.000 dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, disusul penyesuaian harga pada lini sayuran.
Dampak El Nino paling terasa pada sektor pangan primer seperti beras. Di Pasar Bitingan, harga eceran beras kelas medium telah menyentuh Rp15.500 per kilogram. Angka ini terus merangkak naik dari harga pekan lalu sebesar Rp14.500, padahal sebelumnya sempat bertahan stabil pada level Rp14.000 per kilogram.
Syafa’ah, penjual beras setempat, menyebutkan bahwa penyusutan luas area tanam padi pada musim kemarau menjadi pemicu utamanya. Keterbatasan hasil panen memicu lonjakan harga gabah di tingkat petani.
Baca juga: Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok
Dampak Penurunan Panen dan Keluhan Pedagang
“Kenaikan terjadi bertahap dalam sepekan terakhir. Karena volume panen berkurang drastis, otomatis harga gabah meroket dan berdampak langsung ke harga eceran beras medium,” terang Syafa’ah.
Menariknya, kenaikan tak hanya dipicu oleh faktor iklim semata. Komoditas ternak seperti daging ayam dan daging sapi juga terpantau masih betah di tingkatan harga tinggi. Ayam potong kini diperdagangkan di kisaran Rp42.000 per kilogram—jauh melampaui harga normal akhir Juli lalu sebesar Rp35.000. Sementara itu, daging sapi bertahan kokoh pada level Rp140.000 per kilogram sejak momen Lebaran.
Mahalnya harga pangan ini mengundang keluhan dari para pelaku usaha kecil. Iin, pedagang mi ayam lokal, mengaku kepalanya pusing harus memutar otak agar modal usahanya tetap menutupi tingginya belanja bahan baku.
“Sangat berat bagi kami pedagang kecil. Semua kebutuhan pokok naik bersamaan saat daya beli masyarakat sedang turun. Kami sangat berharap intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga agar tidak makin memberatkan,” ungkap Iin. (LK9)
Editor: Ahmad Muhlisin














