LINIKATA.COM, PATI – Lonjakan biaya produksi serta menurunnya produktivitas tanah akibat tumpukan residu kimia mendorong Serikat Petani Pati (SPP) melakukan inovasi. Mereka memproduksi pupuk cair Nitrobacter mandiri yang diklaim mampu memangkas pengeluaran biaya produksi pertanian hingga 50 persen dibandingkan penggunaan pupuk kimia biasa.
Ketua SPP, Kamelan, menuturkan bahwa pembuatan pupuk cair ini dilatarbelakangi oleh kondisi tanah pertanian di Pati yang semakin tidak subur akibat akumulasi pupuk dan pestisida kimia berlebih selama berpuluh-puluh tahun.
”Kami melihat kondisi tanah pertanian kita yang semakin sakit dan tidak subur. Perlu ada upaya mengembalikan kesuburan dengan menghidupkan kembali bakteri tanah. Jika buat sendiri, petani bisa memangkas biaya produksi hingga 50 persen ketimbang bergantung pada produk kimia,” ujar Kamelan.
Kamelan menceritakan, penurunan kualitas tanah sangat terasa pada hasil panen. Jika dua dekade lalu petani bisa meraup 7 hingga 9 ton per hektare dengan perawatan minim, saat ini dengan biaya produksi tinggi pun hasil panen rata-rata justru melorot di bawah 5 ton per hektare.
Baca juga: Sungai Juwana Kering, Petani Karangrowo Pati Terancam Gagal Panen
Racikan Bahan Lokal
Ahli Formula Organik Pertanian SPP, Ali Musthofa, menjelaskan bahwa pembuatan Nitrobacter terbilang sangat mudah dan murah karena memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti tetes tebu (molase), garam grosok, nitrea, biang mikrobakteri, dan air yang difermentasi selama satu pekan.
Secara teknis, fungsi utama Nitrobacter adalah merombak senyawa nitrit yang bersifat beracun di dalam tanah menjadi nitrat—unsur hara nitrogen yang sangat mudah diserap oleh akar tanaman.
”Penggunaannya sangat efisien. Hanya butuh 2 liter pupuk cair Nitrobacter untuk lahan seluas 1 hektare, dengan pengaplikasian cukup empat kali sejak sebelum tanam hingga menjelang panen,” terang Ali.
Baca juga: Baznas Sebut Potensi Zakat Petani Pati Capai Rp126 Miliar per Tahun
Ia menyarankan agar para petani dapat memanfaatkan kombinasi pupuk dasar buatan sendiri, seperti Asam Humat, Asam Amino, dan Nitrobacter. Selain memulihkan struktur tanah yang rusak, langkah ini menjadi jalan keluar bagi petani agar bisa berproduksi dengan biaya serendah mungkin (low cost) demi mencapai kesejahteraan.
”Harapan kami petani tidak lagi bergantung pada produsen pabrikan yang menambah beban biaya. Ketika bisa memproduksi pupuk sendiri, margin keuntungan petani tentu akan jauh lebih besar,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














