LINIKATA.COM, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus tengah mematangkan konsep baru yang segar dan berbeda untuk merayakan Hari Jadi Kabupaten Kudus Ke-477 tahun ini. Pesta rakyat kali ini akan mengusung misi besar, yakni memadukan nilai historis spiritual berdirinya Menara Kudus (Alun-Alun Kulon) dengan pusat pemerintahan modern (Alun-Alun Wetan).
Rangkaian perayaan momentum tahunan ini sengaja diselaraskan dengan penemuan manuskrip sejarah penting yang tertanam di Menara Kudus. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menyatukan dualisme historis yang selama ini melekat di tengah masyarakat.
“Langkah ini diambil untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menyatukan dualisme historis yang ada di masyarakat,” ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah (Setda) Kabupaten Kudus, Jadmiko Muhardi Setiyanto, mendampingi Sekda Kudus Eko Djumartono, Selasa (30/6/2026).
Jadmiko menjelaskan, keunikan konsep baru perayaan tahun ini terletak pada penyelarasan Dua Jantung Sejarah Kudus. Esensi Alun-Alun Kulon sebagai pusat religi akan dikawinkan secara apik dengan Alun-Alun Wetan yang menjadi pusat administrasi Pemkab Kudus.
Lebih dari itu, Pemkab Kudus juga mengakomodasi peringatan Ta’sis (berdirinya) Menara Kudus serta Hari Jadi resmi Pemkab Kudus ke dalam satu kesatuan festival yang megah. Seluruh narasi utama dan ruh kegiatan dipastikan akan bermula dan berakar dari sejarah berdirinya Menara Kudus.
Baca juga: Lelang Ulang Pembongkaran Bangunan Stadion Wergu Wetan Kudus Terjun Bebas
FGD Manuskrip Sejarah hingga Kenduren Massal
Salah satu agenda krusial yang siap digelar dalam waktu dekat adalah bedah Manuskrip Sejarah berdirinya Kabupaten Kudus. Kegiatan ilmiah ini dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) dengan menghadirkan narasumber ahli di bidangnya, seperti Abdul Jawat Nur, Musadad, dan Inajati Adrisijanti.
Jadmiko sedikit membocorkan bahwa titimangsa otentik Hari Jadi Kabupaten Kudus tertulis jelas di dalam manuskrip sejarah yang tersimpan rapi di kompleks Masjid dan Menara Sunan Kudus. Berdasarkan catatan kuno tersebut, hari jadi Kudus jatuh pada tanggal 19 Rajab 956 Hijriah, yang bertepatan dengan tanggal 23 Agustus 1549 Masehi.
“Dalam FGD itu nantinya akan menentukan dan menegaskan kembali hari jadi Kudus,” tuturnya secara detail.
Sebagai penanda sakral dimulainya rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kudus Ke-477, Pemkab Kudus bakal menggelar kenduren massal yang melibatkan masyarakat luas pada 23 Agustus 2026 mendatang.
“Sedang untuk puncaknya, masih tetap di tanggal 23 September yang ditandai dengan upacara atau Apel Hari Jadi,” imbuh Jadmiko.
Baca juga: PKL Menara Kudus Desak Kejelasan Perizinan, Berharap Solusi dari Bupati
Target Cetak Rekor MURI Tari Lajur Caping Kalo
Tidak kalah menarik, panggung pesta rakyat tahun ini juga akan dimeriahkan dengan aksi spektakuler di bidang seni budaya. Pemkab Kudus membidik pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) lewat pagelaran Tari Lajur Caping Kalo kolosal.
Tidak main-main, tarian tradisional khas Kudus ini rencananya akan dibawakan secara serentak oleh ratusan penari dari berbagai kalangan guna mengangkat pamor warisan budaya takbenda tersebut ke kancah nasional.
“Akan ada pemecahan rekor MURI tari Lajur Caping Kalo terbanyak dengan jumlah peserta sekitar 600 penari. Pemecahan rekor MURI ini kita laksanakan berkat kerja sama sinergis dengan pihak swasta,” pungkas Jadmiko. (LK9)
Editor: Ahmad Muhlisin















