LINIKATA.COM, KUDUS – Di sebuah sudut RT 1 RW 2, Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, sebuah ruang sempit yang dulunya gudang kayu bakar kini menjadi saksi perjuangan hidup keluarga Sutinah (49).
Bukan setahun dua tahun, Sutinah bersama suami dan seorang anaknya telah menghuni “rumah” berukuran sekitar satu meter itu selama enam tahun terakhir. Udara pengap dan ruang gerak yang terbatas menjadi santapan sehari-hari. Tempat yang semula digunakan untuk menyimpan kayu bakar itu disulap sedemikian rupa agar bisa ditiduri.
“Dulu masak pakai kayu bakar, tempatnya di sini. Sekarang karena pakai kompor, disuruh bersihkan lalu saya tinggali,” ungkap Sutinah.
Baca juga: Kisah Keuletan Agus, Petani Hidroponik di Lau Kudus yang Kewalahan Layani Permintaan Selada
Himpitan Ekonomi dan Kondisi Kesehatan yang Menurun
Keputusan pahit untuk tinggal di emperan ini diambil bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Sutinah sempat mengontrak rumah di daerah selatan dengan biaya satu juta rupiah per tahun. Namun, himpitan ekonomi membuat biaya yang tergolong murah itu pun tak sanggup mereka bayar.
Kondisi fisik yang kian menurun memperparah keadaan. Sutinah menderita sakit di bagian kaki yang membuatnya kesulitan bergerak dan bekerja normal. Untuk menyambung hidup, ia mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang sangat terbatas.
“Saya kerja bulan (serabutan), kadang dapat Rp10.000 sehari. Sebulan ya sekitar Rp300 ribu,” tuturnya.
Nasib serupa menimpa sang suami, Sulatin (50). Sudah 12 tahun lamanya ia menderita sakit punggung kronis yang membuatnya tak lagi perkasa mencari nafkah. Alih-alih berobat secara medis, Sulatin hanya mengandalkan jamu asam urat setiap hari agar tubuhnya tetap bisa digerakkan. Meski memiliki kartu BPJS pemerintah, mereka mengaku obat medis yang didapat kurang terasa khasiatnya dibandingkan jamu tradisional.
Baca juga: Dari Beban Pundak ke Baitullah: Kisah Inspiratif Kuli Panggul Kudus yang Berangkat Haji
Prioritas Pendidikan Anak di Tengah Keterbatasan
Di tengah kemiskinan yang mencekik, Sutinah tetap memprioritaskan pendidikan anaknya yang lahir tahun 2013. Sang anak kini duduk di bangku SMP di daerah Mejobo. Meski biaya sekolah dan LKS digratiskan melalui dana BOS, Sutinah masih harus memutar otak untuk membelikan seragam sekolah.
Harapan untuk hidup lebih layak sebenarnya sempat membuncah. Dengan sisa tenaga dan tabungan yang dikumpulkan susah payah, Sutinah berhasil membeli sepetak tanah. Namun, seluruh tabungannya habis hanya untuk menebus tanah tersebut.
“Duit dikumpulkan buat beli tanah. Sekarang tanahnya sudah ada, tapi belum bisa membangun rumah karena uangnya sudah habis buat bayar tanah itu,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin














