LINIKATA.COM, KUDUS – Di bawah riuh rendah aktivitas Pasar Kliwon, Kudus, langkah kaki Suharman (51) telah ribuan kali menyisuri lorong yang sama. Selama 16 tahun, pundaknya menjadi tumpuan beban barang-barang dagangan demi mengais rezeki.
Namun, di balik cucuran keringat sebagai buruh angkut, pria lulusan SD ini menyimpan mimpi besar yang sebentar lagi menjadi nyata, menunaikan ibadah haji di tahun 2026. Warga Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang menuju Tanah Suci. Baginya, niat yang tulus adalah modal utama yang melampaui angka-angka di atas kertas.
Strategi Menabung Melalui Ternak Kambing
Suharman mengakui bahwa menabung uang tunai dari penghasilan kuli panggul bukanlah perkara mudah. Upahnya yang berkisar antara Rp 125.000 hingga Rp 150.000 per hari seringkali habis untuk kebutuhan dapur. Sadar akan sulitnya menyisihkan uang kertas, ia memutar otak dengan melirik sektor peternakan.
Baca juga: 1.199 Calon Jemaah Haji Kudus Dibagi Lima Kloter, Diterbangkan Awal Mei
“Dulu saya sempat ragu, apa mungkin buruh angkat-junjung seperti saya bisa haji? Menabung uang tunai itu susah sekali. Akhirnya saya coba beternak kambing, dan ternyata dari situlah jalannya terbuka,” ujar Suharman, Senin (20/4/2026).
Pada tahun 2013, Suharman membulatkan tekad. Ia menjual kambing-kambing hasil rawatannya untuk membayar uang pendaftaran haji sebesar Rp 51 juta untuk dirinya dan sang istri, Emi Setyowati (46). Setelah mendaftar, ia tak lantas berpangku tangan. Ia kembali membeli seekor kambing betina untuk dikembangbiakkan kembali sebagai persiapan pelunasan kelak.
Perjuangan Pelunasan dan Pengorbanan Istri
Jalan menuju Makkah kembali diuji tahun ini ketika Suharman menerima kabar bahwa namanya masuk dalam kuota tambahan tahun 2026 ini. Kabar gembira ini membawa tantangan besar, ia harus melunasi sisa biaya haji dalam waktu yang sangat singkat.
Tanpa pikir panjang, seluruh aset yang ia miliki pun dikerahkan. Seluruh kambing di kandangnya dijual habis tepat setelah momentum Lebaran. Namun, hasil penjualan tersebut rupanya masih menyisakan kekurangan sebesar Rp 10 juta. Di sinilah peran sang istri, Emi, menjadi kunci. Ia merelakan perhiasan emas simpanannya dijual demi menutup kekurangan tersebut.
“Waktu dapat undangan pelunasan, saya sempat bingung uangnya dari mana. Akhirnya kambing saya jual semua, dan sisanya ditutup pakai tabungan emas ibunya (istri),” tuturnya dengan nada syukur.
Baca juga: Tak Ada Yang Mustahil! Penjual Tempe di Pati Bisa Haji dari Nabung Rp10 Ribu Sehari
Motivasi bagi Rekan Sesama Buruh
Keteguhan hati Suharman mengundang decak kagum dari rekan-rekan sesama kuli panggul di Pasar Kliwon. Muhammadun, salah satu rekan kerjanya, menyebut Suharman sebagai sosok yang pantang menyerah dan minim keluhan.
“Pak Man itu sangat rajin. Di saat pasar sepi dan pendapatan hanya cukup untuk makan, dia tetap konsisten. Keberangkatannya tahun ini menjadi motivasi besar bagi kami semua bahwa siapa pun punya kesempatan yang sama untuk ke Makkah,” ujar Muhammadun.
Kini, hari-hari Suharman tak lagi hanya diisi dengan memanggul karung, melainkan persiapan batin dan fisik menuju ibadah haji. Berdasarkan jadwal resmi, Suharman dan istrinya yang tergabung dalam Kloter 43 akan diberangkatkan dari Kudus menuju Embarkasi Solo pada 5 Mei 2026.
Jika selama belasan tahun pundaknya terbiasa menahan beban berat kargo pasar, sebentar lagi beban itu akan berganti dengan tas perlengkapan haji. Langkah kaki yang biasanya berderu di lantai semen pasar, dalam hitungan hari akan bersujud di atas marmer putih Masjidil Haram.
Sebuah pengingat nyata bagi kita semua, bahwa dengan manajemen niat yang kuat dan kerja keras yang dibarengi kesabaran, impian yang mustahil pun bisa dijemput menjadi nyata. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin















