LINIKATA.COM, KUDUS – Keputusan Agus Sulistiyanto (38) untuk menanggalkan seragam karyawan swasta beberapa tahun lalu kini berbuah manis. Di balik instalasi talang untuk hidroponik yang memenuhi lahan di Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, pria tiga anak ini justru menemukan ritme hidup yang lebih menjanjikan sebagai petani modern.
Kamis (30/4/2026) pagi, suasana hijau segar menyambut siapa saja yang berkunjung ke kebun miliknya. Agus tampak telaten mengecek barisan selada yang tumbuh subur. Sesekali ia membawa alat pengukur untuk memastikan nutrisi terlarut dalam air (PPM) dan kadar keasaman (pH) berada di angka sempurna.
“Kuncinya adalah teliti. Kalau hidroponik itu kita ‘bermain’ dengan air. Jadi nutrisi harus benar-benar terjaga agar hasilnya maksimal,” ujar Agus sembari menunjukkan daun selada yang hijau royo-royo.
Baca juga: Tak Ada Yang Mustahil! Penjual Tempe di Pati Bisa Haji dari Nabung Rp10 Ribu Sehari
Dedikasi Pertanian Modern
Menjadi petani hidroponik bagi Agus bukan sekadar tren, tapi soal dedikasi. Dibutuhkan waktu sekitar 40 hari dari persemaian hingga selada-selada ini siap dipanen. Ketekunannya dalam merawat tanaman membuahkan sayuran yang jauh lebih bersih, renyah, dan tahan lama dibandingkan selada konvensional.
Kualitas inilah yang membuat konsumen jatuh hati. Agus menceritakan bahwa pelanggannya jauh lebih puas karena sayuran diterima dalam kondisi prima. Namun, siapa sangka rutinitas pagi yang tenang itu kini kerap berubah menjadi “kegaduhan” pesanan yang datang silih berganti.
Berkah Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Lonjakan permintaan yang signifikan dirasakan Agus sejak bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Jika sebelumnya ia hanya memasok untuk kebutuhan katering dan pedagang kebab, kini pasar terbesar Agus telah bergeser ke sektor yang lebih luas.
Baca juga: Dari Beban Pundak ke Baitullah: Kisah Inspiratif Kuli Panggul Kudus yang Berangkat Haji
“Diakui atau tidak, program MBG ini sangat membantu petani lokal. Sekarang, sekitar 70 persen hasil panen saya masuk ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sisanya baru untuk pasar umum dan katering,” jelasnya.
Seminggu sekali, Agus harus menyiapkan stok sebanyak 70 hingga 80 kilogram selada untuk memenuhi menu mingguan SPPG. Dengan harga jual Rp28.000 per kilogram, perputaran ekonomi di kebunnya kian kencang. Bahkan, Agus mengaku sering merasa tidak enak hati karena harus menolak pesanan akibat stok yang terbatas.
“Jujur kami kewalahan. Saat ini saya sedang fokus menambah instalasi baru agar semua permintaan, terutama untuk kebutuhan gizi anak-anak lewat SPPG, bisa tercukupi tanpa harus menolak pelanggan lagi,” tambahnya. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin















