LINIKATA.COM, PATI – Di balik gerakan lentur dan tatapan fokusnya saat mengajar tari di Sanggar Prigel Bromastro, Yheni Aprilia Susanti (26) menyimpan kisah perjuangan yang menguras air mata. Perempuan asal Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati ini harus memutar otak demi mencukupi kebutuhan hidup di tengah minimnya apresiasi bagi tenaga pendidik honorer.
Sehari-hari, Yheni merupakan guru seni di SMP Negeri 1 Tambakromo. Meski mengajar dengan penuh dedikasi, upah yang ia terima jauh dari kata layak. Dalam sebulan, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini hanya mengantongi gaji sebesar Rp345 ribu.
“Kalau boleh jujur, untuk bensin saja tidak ter-cover ya. Tapi, ya dijalani,” ungkap Yheni saat ditemui di sanggarnya, Sabtu (2/5/2026).
Baca juga: Kisah Pilu Pedagang Plaza Pragola Pati, Sehari Belum Tentu Laku Satu Piring
Banting Tulang Jadi Pesinden hingga Cucok Lampah
Jarak rumah ke sekolah yang mencapai 6,5 kilometer membuat gaji bulanannya habis hanya untuk biaya transportasi. Apalagi, penghasilan suaminya yang juga seorang guru PJOK berstatus PPPK di SMPN 1 Gabus juga tidak besar-besar amat . Kondisi ini memaksa Yheni untuk mencari penghasilan tambahan melalui keahlian seninya.
Di luar jam sekolah, waktu Yheni dihabiskan untuk melatih tari di berbagai instansi. Saat hari mulai gelap, ia sering kali berganti peran menjadi pesinden dalam pementasan campursari. Tak jarang, ia juga melakoni peran sebagai cucok lampah dalam upacara pernikahan jika ada panggilan di pagi atau siang hari.
“Saya mencari kesibukan dengan keahlian di bidang saya. Ada sanggar di rumah, melatih tari. Selain itu kalau ada panggilan dari sekolah atau instansi lain untuk melatih, saya juga ke sana,” tuturnya.
Harapan Menjadi ASN dan Minimnya Kuota Guru Seni
Yheni bukannya tanpa peluang untuk memperbaiki nasib. Ia mengaku sempat lolos seleksi PPPK, namun terpaksa dilepas karena penempatannya di Kabupaten Rembang. Pertimbangan anak yang masih kecil dan jarak yang jauh menjadi alasan berat di balik keputusan tersebut.
Baca juga: Dari Beban Pundak ke Baitullah: Kisah Inspiratif Kuli Panggul Kudus yang Berangkat Haji
Kini, langkahnya untuk menjadi abdi negara kian terjal. Yheni mengeluhkan minimnya kuota guru seni di wilayah asalnya, Kabupaten Pati.
“Kuota guru seni minim sekali, di Pati tidak ada. Batas akhirnya pendaftaran kemarin 30 April, tapi di Pati kosong. Yang terdekat hanya Blora dan Demak,” keluhnya.
Meski demikian, semangat Yheni tidak padam. Baginya, menjadi guru dan seniman adalah cara untuk mewujudkan wasiat mendiang sang ayah agar menjadi manusia yang bermanfaat. Ia tetap berharap suatu saat nanti ada formasi yang memungkinkannya mengabdi di tanah kelahirannya sendiri dengan kesejahteraan yang lebih baik.
Editor: Ahmad Muhlisin















