LINIKATA.COM, PATI – Para perajin tahu di Kabupaten Pati mulai menjerit akibat kenaikan harga kedelai impor yang terjadi sepanjang April ini. Lonjakan harga bahan baku utama tersebut memaksa para pelaku usaha kecil memutar otak agar tetap bisa berproduksi di tengah biaya operasional yang membengkak.
Dion, salah satu perajin tahu asal Desa Wedarijaksa, Kecamatan Wedarijaksa, mengungkapkan bahwa harga kedelai saat ini naik cukup tajam dibandingkan periode sebelum Ramadan lalu.
“Sebelumnya itu sekitar Rp9.000 per kilogram, sekarang sudah naik jadi Rp10.600 sampai hampir Rp11.000,” ujar Dion saat ditemui di tempat usahanya, Senin (13/4/2026).
Baca juga: Harga Pupuk dan Pestisida di Pati Melejit, Petani Kelimpungan!
Dilema Harga Jual: Takut Kehilangan Pelanggan
Kenaikan sekitar Rp1.600 hingga Rp1.700 per kilogram ini diakui Dion sangat menekan margin keuntungan. Dalam sehari, ia mampu mengolah sekitar 70 kilogram kedelai menjadi 40 papan tahu. Meski beban produksi naik, ia mengaku belum berani menaikkan harga jual produknya ke konsumen.
Ia khawatir jika harga dinaikkan, para pelanggan setia akan beralih ke produk lain.
“Dampaknya sekarang belum terlalu terasa ke penjualan, tapi ke keuntungan jelas berkurang. Jadi menipis,” jelasnya.
Soroti Pengaruh Geopolitik Global
Menariknya, Dion menilai gejolak harga ini tidak lepas dari kondisi geopolitik luar negeri yang memengaruhi jalur distribusi komoditas internasional. Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor dari Brazil dan Argentina membuat harga lokal sangat sensitif terhadap isu global.
“Kalau dari berita yang saya baca, ada pengaruh dari konflik luar negeri seperti Amerika, Israel, dan Iran. Itu katanya berdampak ke harga kedelai,” tambah Dion.
Sejauh ini, penggunaan kedelai lokal belum menjadi solusi bagi perajin di Pati. Selain stok yang terbatas, kualitas kedelai lokal dinilai masih di bawah standar kedelai impor untuk menghasilkan tekstur tahu yang diinginkan pasar.
Baca juga: Geruduk Dispertan Pati, Petani: Pupuknya Cuma 20%, Sisanya Pakai Doa Saja
Harapan Stabilitas Harga di Angka Rp9.000
Para perajin di wilayah Bumi Mina Tani berharap pemerintah segera melakukan intervensi untuk menstabilkan harga kedelai. Bagi mereka, harga ideal agar usaha tetap sehat berada di angka Rp9.000 per kilogram.
“Kalau di angka Rp9.000 itu kami masih bisa dapat keuntungan dan punya simpanan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin















