LINIKATA.COM, PATI – Pemadaman listrik yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Pati berdampak serius terhadap aktivitas usaha rumahan atau home industri. Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah per hari akibat terganggunya proses produksi saat listrik padam pada jam kerja.
Salah satunya dialami Muryati, pemilik CV Mahakarya Mulya di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Usaha yang bergerak di bidang pengolahan limbah garmen menjadi kapuk sintetis untuk isian kasur dan bantal tersebut sangat bergantung pada pasokan listrik.
Menurut Muryati, pemadaman listrik yang terjadi tidak hanya berupa gangguan sesaat atau listrik berkedip (byar pet), melainkan mati total selama beberapa jam. Kondisi itu membuat seluruh aktivitas produksi terhenti.
“Kalau cuma byar pet masih bisa dimaklumi. Masalahnya ini mati total. Otomatis sangat mengganggu produksi karena usaha kami memang bergantung pada listrik,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya, Rabu (24/6/2026).
Ia menuturkan, dalam sepekan terakhir listrik beberapa kali padam dengan durasi rata-rata tiga hingga empat jam per hari. Akibatnya, perusahaan harus menanggung kerugian besar karena target produksi tidak tercapai.
“Dalam satu hari saja kerugiannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Produksi berhenti, sementara pesanan harus tetap dipenuhi tepat waktu,” kata Muryati.
Baca juga: Ditemui Gubernur Luthfi, Korban Rob Tunggulsari Pati Wadul Masalah Mati Lampu!
Produksi Mandek, Tetap Harus Bayar Upah Karyawan
Selain kehilangan potensi pendapatan, perusahaan juga tetap harus membayar upah 15 karyawan yang sudah terlanjur masuk kerja. Saat listrik padam, para pekerja tidak dapat melanjutkan aktivitas produksi, namun hak mereka tetap harus dipenuhi.
“Pegawai sudah masuk kerja, lalu listrik mati. Mereka terpaksa berhenti bekerja, tetapi tetap kami bayar penuh karena kasihan juga kalau tidak dibayar,” jelasnya.
Tak hanya menghambat produksi, pemadaman listrik juga berdampak pada keterlambatan pengiriman barang kepada pelanggan. Kondisi tersebut memicu keluhan dari para pengrajin kasur dan konsumen yang menjadi mitra usaha miliknya.
“Kalau produksi terhenti, otomatis pengiriman tertunda. Akhirnya pelanggan komplain karena barang tidak datang sesuai jadwal,” ungkap Muryati.
Baca juga: Masifnya Penggunaan Sumur Bor Disebut Perparah Banjir Rob di Tunggulsari Pati
Pengusaha Berharap PLN Lakukan Evaluasi
Ia berharap pihak PLN dapat melakukan evaluasi terhadap sistem pengaturan daya maupun jadwal pemadaman listrik, khususnya bagi pelaku usaha yang sangat bergantung pada listrik untuk menjalankan kegiatan produksi.
Menurutnya, apabila memang harus dilakukan pemadaman bergilir, sebaiknya tidak dilakukan pada jam-jam kerja atau mempertimbangkan lokasi usaha yang membutuhkan pasokan listrik besar.
“Harapan kami, sistemnya dibenahi. Kalau memang ada pengurangan daya atau pemadaman bergilir, jangan sampai dilakukan saat jam kerja dan jangan menyasar pelaku usaha yang benar-benar bergantung pada listrik,” tegas Muryati.
Muryati menambahkan, penggunaan genset bukan menjadi solusi bagi usahanya karena kebutuhan daya listrik yang sangat besar. Oleh karena itu, stabilitas pasokan listrik menjadi faktor utama untuk menjaga keberlangsungan produksi dan memenuhi permintaan pasar. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















