LINIKATA.COM, PATI – Warga terdampak banjir rob di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati memanfaatkan kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi untuk berkeluh kesah. Curhatan itu mulai dari dampak bencana hingga seringnya mati lampu di wilayah tersebut.
Saat Gubernur Jateng yang didampingi Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menengok permukiman warga, seorang nenek bernama Jumiah, langsung mendekati rombongan untuk mengadukan kondisi desanya.
Jumiah memaparkan bahwa fasilitas lampu penerangan jalan umum yang membentang dari arah Jalan Raya Juwana-Tayu hingga ke area tambak ikan sudah dalam kondisi mati total selama berbulan-bulan.
”Penerangan jalan dari jalan raya sampai sini mati tidak ada yang hidup,” wadul Jumiah sambil menggandeng cucunya, Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Momen Gubernur Luthfi Diciumi Warga Terdampak Banjir Rob Tunggulsari Pati
Gubernur Instruksikan Plt Bupati Pati Selesaikan Dalam Sehari
Mendengar aduan dari masyarakat kecil, Gubernur Jateng langsung merespons tegas di lokasi peninjauan. Ahmad Luthfi seketika meminta Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra untuk segera mengambil tindakan taktis guna membenahi fasilitas publik yang rusak tersebut.
”Atasi kapan?,” tanya Ahmad Luthfi kepada Chandra.
Mendapat instruksi spontan dari pucuk pimpinan provinsi, Plt Bupati Pati langsung memberikan jaminan bahwa perbaikan jaringan lampu penerangan jalan akan dituntaskan paling lambat pada Rabu (24/6/2026) besok.
”Besok langsung diperbaiki. Langsung kita kerjakan,” jawab Risma Ardhi Chandra.
Baca juga: Tinjau Rob di Tunggulsari Pati, Gubernur Luthfi Siapkan Rp400 Juta untuk Perbaiki Tanggul
Keluhkan Pemadaman Bergilir Tanpa Pemberitahuan Sepihak
Lebih lanjut, Jumiah menceritakan bahwa persoalan pemadaman ini baru meluas pada tahun ini. Menurut penuturannya, pada tahun 2025 lalu beberapa lampu jalan di sepanjang koridor desa sebenarnya masih sempat menyala secara berkala.
”Listrik tahun kemarin masih bisa menyala satu dua listrik tapi sekarang dari jalan raya sampai sini mati lampu. Itu penerangan jalan,” ungkap warga yang sehari-hari duka bekerja sebagai pedagang jajanan duka tersebut.
Selain masalah fasilitas penerangan luar ruang, warga Desa Tunggulsari ternyata juga harus menghadapi pemadaman listrik bergilir ke rumah-rumah penduduk. Bahkan, pemadaman arus listrik sering kali terjadi mendadak tanpa adanya pengumuman resmi sebelumnya.
”Biasanya bergilir. Hari Sabtu kemarin sempat jam 4 sore sampai jam 7 malam. Harapannya supaya PLN dan petugasnya agar masyarakat kecil bisa beraktivitas seperti di tambak dan jualan,” pungkas Jumiah. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















