LINIKATA.COM, PATI – Puluhan warga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pati berebut gunungan dan nasi berkat dalam tradisi Sedekah Bumi Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Rabu (13/5/2026). Besarnya animo masyarakat membuat suasana menjadi ricuh, hingga mengakibatkan satu warga jatuh pingsan.
Rangkaian tradisi yang berpusat di Kapunden Mbah Mursidin itu dimulai dengan acara doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Dalam pemanjatan doa itu, ada pula simbolisasi pementasan wayang yang merupakan kesenian kesukaan tokoh penyebar agama Islam di Ketitangwetan tersebut.
Setelah acara doa bersama, prosesi dilanjutkan dengan rebutan gunungan dari kepala desa. Seketika belasan warga langsung berebut berbagai hasil bumi seperti terong, kacang panjang, cabai, hingga buah-buahan semacam nanas, jeruk sampai pisang.
Baca juga: Unik! Menikahkan Sepasang Tebu, Tradisi Sakral PG Rendeng Kudus Sebelum Musim Giling
Kericuhan Saat Pembagian Ribuan Nasi Berkat
Tak berhenti di situ, puluhan warga yang sudah menunggu pembagian ribuan nasi berkat juga langsung bersiap di sebuah pendapa samping makam. Saat mobil boks berisi nasi berkat sumbangan warga tiba, mereka langsung menyerbu hingga kericuhan tak terelakkan.
Bahkan, saking membeludaknya warga yang berburu nasi berkat, ada satu warga lanjut usia (lansia) yang pingsan, hingga harus dievakuasi. Aksi warga ini merupakan upaya mereka berburu keberkahan pada gunungan dan nasi berkat yang sudah didoakan.
Kepala Desa Ketitangwetan, Ali Muntoha, menjelaskan, tradisi sedekah bumi ini dilangsungkan setiap Rabu Kliwon pada Bulan Apit atau Dzulqa’dah. Tradisi ini merupakan bentuk syukur warga atas berkah hasil bumi yang melimpah.
“Ini merupakan ungkapan rasa syukur warga Desa Ketitangwetan atas karunia dan nikmat dari Allah,” katanya.
Harapan Keberkahan Pertanian dan Sejarah Mbah Mursidin
Dalam tradisi ini, pihaknya berharap hasil pertanian warga setempat bisa melimpah ruah dan tentunya berkah untuk keluarga masing-masing.
“Semoga (dengan tradisi ini) Desa Ketitangwetan ini mendapatkan hasil pertanian yang melimpah, hasil bumi yang melimpah, serta rezeki yang halal dan berokah yang melimpah ruah,” doanya.
Ali Muntoha menjelaskan, Mbah Mursidin merupakan pendatang dari Jawa Timur murid Sunan Kalijaga dan Sunan Muria yang ditugaskan oleh Kadipaten Tuban untuk menyebarkan agama Islam. Bersama enam tokoh agama lain, mereka ditugaskan ke berbagai desa di Kabupaten Pati, termasuk Desa Ketitangwetan.
“Menurut cerita para sesepuh, dulu dari Kadipaten Tuban menyebarkan tujuh pusaka, dan meminta Mbah Mursidin dan tokoh lain mengikuti pusaka tersebut. Pusaka itu sebagai petunjuk desa yang akan jadi pusat penyebaran agama Islam,” beber dia.
Baca juga: Tradisi Sedekah Laut Juwana Pati Diusulkan Jadi Warisan Budaya tak Benda
Animo Warga Luar Daerah Berburu Berkah
Salah satu warga, Parso, mengaku memang menantikan tradisi sedekah bumi untuk mencari keberkahan. Bahkan, warga Kecamatan Margoyoso itu rela jauh-jauh ke Ketitangwetan untuk berburu nasi berkah.
“Tadi bersama beberapa teman Margoyoso ke sini. Ini dapat belasan nasi berkat. Nasi hasilnya dibagi,” katanya.
Parso dan teman-temannya memang sering berburu nasi berkat sedekah bumi. Bahkan, di momen Bulan Apit ini, dia hampir setiap hari keliling desa-desa di Pati.
“Ini sekaligus buat hiburan. Tiap hari keliling. Kadang ada sehari sampai dua-tiga desa,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin















