LINIKATA.COM, PATI – Di tepi Jalan Raya Pati–Tayu, tepat di depan Perum Permai Nomor 1, Desa Kutoharjo, Kecamatan Pati, berdiri sebuah bangunan bernuansa tempo dulu. Rumah joglo dengan ornamen kayu jadul itu berdiri anggun, menawarkan nostalgia di tengah riuk pikuk kendaraan yang melintas. Siapa sangka, dari teras rumah adat Khas Pati inilah terhampar kisah inspiratif tentang keberanian memulai lembaran hidup baru di usia senja.
Di dalam rumah tersebut, aroma gurih bumbu kacang berpadu wangi daun jeruk menyapa hangat setiap pengunjung yang melangkah masuk. Uniknya, seluruh bahan nasi pecel dipajang di atas keranjang bambu yang dirancang menyerupai pikulan nasi gandul tradisional. Di atas meja, berjejer rapi aneka lauk pendamping, mulai dari sate ayam, telur, hingga gurihnya tempe goreng hangat.
Pemilik kehangatan warung tersebut adalah Endang Ratnaningsih. Mengenang balik perjalanannya, wanita ramah ini sejatinya merupakan seorang pensiunan pegawai bank berpelat merah, BRI, yang purna tugas pada tahun 2019 silam. Sempat tak memiliki kesibukan di tengah gempuran pandemi Covid-19, Endang memutuskan melangkah ke dunia kuliner pada tahun 2022.
“Warung namanya nasi pecel joglo. Buka sejak tahun 2022,” kata Endang ditemui di lokasi, Rabu (14/5/2026).
Langkah spekulatif yang ia ambil di kala pandemi itu rupanya membuahkan hasil manis. Masyarakat menyambut hangat racikan bumbunya yang autentik.
“Ceritanya Ibu itu sudah pensiun, waktu itu Covid adik sana ke sini mau buka kan nasi pecel, saya tidak tahu lo kalau sini buka nasi pecel ternyata bisa diterima,” terang dia.
“Dulu saya pensiunan pegawai BRI tahun 2019 pensiun, terus Covid dan buka warung tahun 2022,” lanjut dia.
Baca juga: Ayam Panggang Kaya Rempah Berpadu Pecel Pakis yang Bikin Nagih di Kajar Kudus
Racikan Sajian Unik dan Ikonik
Nasi pecel buatan Endang memang tampil berbeda ketimbang warung pecel pada umumnya. Selain paduan sayur daun tela, kacang, dan kecambah yang disiram sambal kacang pecel, ia menambahkan aneka pelengkap segar dan lauk rumahan yang menggoda selera.
“Nasi itu rames ada daun tela, kacang, kecambah, terus topingnya ada ketimun, ada kemangi terus ada tambahan lagi toping mi sama tahu. Istilahnya tahu lombok hijau itu yang suka,” jelas dia.
Dipatok dengan harga ramah kantong seharga Rp8 ribu per porsi, warung yang buka dari pukul 07.00 WIB hingga ludes ini kini mampu menjual hingga 150 porsi dalam sehari. Dari usaha sederhana ini, omzet jutaan rupiah pun rutin mengalir saban hari.
“Satu porsinya Rp 8 ribu. Sehari kira-kira 150 hari,” kata dia.
Kini, pelanggan yang singgah tak hanya warga lokal Pati, melainkan berdatangan dari berbagai kota sekitar seperti Kudus, Demak, Juwana, hingga wisatawan asal Jakarta.
“Pembeli dari mana saja, ada dari Jakarta, Demak Kudus, Juwana tapi yang banyak orang Pati sendiri,” jelasnya.
Endang mengaku sama sekali tidak menyangka jika bangunan joglo yang mulanya diniatkan sebagai tempat berkumpul keluarga besar saat momentum Lebaran kini bertransformasi menjadi ikon wisata kuliner lokal Pati.
“Kalau ini semua tidak untuk jualan nasi pecel joglo, mulanya untuk pertemuan saat lebaran, tapi ternyata jualan nasi pecel joglo malah rejeki,” jelasnya.
Baca juga: Mulai Rp3 Ribu, Warung di Alun-Alun Kembangjoyo Pati Ini Jual Kuliner Langka
Sentuhan Suasana Pedesaan
Bagi para penikmatnya, kelezatan rasa dan atmosfer syahdu di dalam rumah joglo menjadi kombinasi sempurna yang selalu merindu. Iqbal Sukamto, warga Pati yang menjadi pelanggan setia setiap pagi, mengaku selalu nyaman bersantap di tempat ini.
”Rasanya mantab, ada campuran kering mi, telur dadar, sate, dengan suasana otentik Jawa menambah syahdu makan nasi pecel Joglo,” ungkap Iqbal ditemui di lokasi pagi tadi.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Kiryanto, pengunjung asal Kudus yang tak sengaja singgah bersama rombongan keluarganya saat menikmati hari libur. Daya pikat rumah jadul dan aroma bumbu pecel yang khas langsung mencuri perhatiannya.
”Rasanya pecel itu wangi bau jeruk, saya lihat kok ramai, baru pertama ke sini dari Kudus kan jalan-jalan hari libur,” jelasnya.
Ia pun memuji konsep arsitektur klasik yang diusung Endang hingga mampu menarik peminat dari luar daerah.
“Ini bangunan model jadul tapi ya bagus indah, jadi banyak pelanggan, terutama rasa wangi jeruk beda dengan pecel lain,” terang dia.
Perjalanan Endang Ratnaningsih membuktikan bahwa masa pensiun bukanlah garis akhir untuk berkarya. Lewat ketekunan, keberanian mencoba hal baru, dan kehangatan dalam merawat tradisi, sebuah usaha sederhana mampu menjelma menjadi jalan rezeki yang tak pernah putus. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













