LINIKATA.COM, PATI – Dampak puncak musim kemarau mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Pati. Sedikitnya 12 desa yang tersebar di enam kecamatan kini dilaporkan terdampak kekeringan dan mulai mengandalkan pasokan bantuan air bersih dari pemerintah daerah.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati telah memproyeksikan puncak kemarau akan berlangsung dari bulan Agustus hingga Oktober, bahkan berpotensi memanjang hingga akhir tahun.
”Puncak kemarau di Pati diperkirakan Agustus, September, Oktober, bahkan ada kemungkinan sampai November-Desember baru turun hujan. Pantura bagian timur seperti Pati memang menerima hujan paling akhir,” papar Martinus saat ditemui, Jumat (28/8/2026).
Baca juga: Sungai Silugonggo di Pati Mengering, Ratusan Nelayan Terpaksa Nganggur
24 Tangki Air Bersih Telah Disalurkan
Merespons kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Pati telah mendirikan posko penanganan kekeringan dan bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih (dropping) sejak 1 Agustus 2026.
Hingga saat ini, distribusi air difokuskan pada 12 desa yang berada di wilayah Kecamatan Gabus, Jakenan, Jaken, Pucakwangi, Sukolilo, dan Tambakromo.
”Sampai hari ini sudah 24 tangki dengan kapasitas 5.000 liter per tangki yang kita salurkan ke belasan desa tersebut,” sebut Martinus.
Baca juga: Sungai Juwana Kering, Petani Karangrowo Pati Terancam Gagal Panen
Gencarkan Dropping Air
Memasuki bulan September yang diprediksi akan semakin kering, BPBD menargetkan peningkatan intensitas pengiriman air bersih menjadi 10 hingga 12 tangki setiap harinya. Plt Bupati Pati juga telah menginstruksikan jajarannya untuk mengajukan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) guna mendukung operasi kemanusiaan ini secara maksimal.
Untuk menunjang mobilitas dropping air, saat ini armada yang disiagakan meliputi tiga unit milik BPBD Pati dan satu unit bantuan dari Pemprov Jateng.
Pihaknya juga tengah berkoordinasi untuk meminjam armada tambahan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Batalyon Teritorial Pembangunan (TP), jajaran Polresta Pati, hingga menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) dan para donatur.
”Sinergi jajaran kepolisian, TNI, dan donatur sudah sangat terjalin erat supaya masyarakat yang butuh air bersih dapat terlayani pemenuhan kebutuhan dasarnya dengan baik,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













