LINIKATA.COM, KUDUS – Pesona kawasan pegunungan Muria di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tidak pernah ada habisnya. Selain menyuguhkan udara sejuk dan wisata religi Makam Sunan Muria, lereng gunung ini juga menyimpan surga kuliner tersembunyi yang kini tengah diburu para pelancong.
Tepat di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, terdapat sebuah destinasi kuliner legendaris bernama Warung Mbok Tin. Mengandalkan menu unik berupa perpaduan ayam panggang kaya rempah dan pecel daun pakis khas pegunungan, tempat makan sederhana ini sukses membuat para pencinta kuliner rela datang jauh-jauh dan mengantre.
Sensasi Ayam Gantung dan Pakis Liar dari Hutan Muria
Terletak strategis di jalur utama Kudus-Colo, Warung Mbok Tin menyajikan ayam kampung panggang dengan tekstur yang sangat empuk namun tetap padat. Keunikan yang paling mencuri perhatian pengunjung adalah cara penyajiannya yang estetik, di mana ayam panggang utuh disajikan dalam kondisi digantung di atas nampan anyaman bambu beralas daun pisang.
Baca juga: Menikmati Lontong Balungan Mbah Rum yang Legendaris di Kropak Pati
Tak hanya ayamnya yang juara, menu pendampingnya pun terbilang langka. Alih-alih memakai sayuran biasa, warung ini menggunakan daun pakis yang dipetik langsung dari hutan liar di lereng Gunung Muria sebagai bahan utama pecel.
Perpaduan tekstur renyah daun pakis, gurihnya bumbu kacang, serta kelezatan ayam panggang panas menciptakan kombinasi rasa yang menggoyang lidah.
“Rasa ayamnya empuk dan meresap banget. Yang bikin spesial itu penyajian ayamnya digantung, jadi unik. Ditambah lagi pecel pakisnya yang segar dan nikmat,” ungkap Diah Arum, salah satu wisatawan asal Sragen saat ditemui di lokasi.
Menjaga Resep Warisan Tradisional
Di balik popularitasnya, sang pemilik rupanya tetap setia mempertahankan metode memasak tradisional. Satu ekor ayam kampung utuh terlebih dahulu dimarinasi dalam racikan bumbu rahasia turun-temurun selama berjam-jam agar meresap sempurna hingga ke tulang, sebelum akhirnya dipanggang di dalam tungku khusus.
Mendapatkan bahan baku daun pakis berkualitas pun menjadi tantangan tersendiri. Pengelola warung harus menyusuri jalur terjal pegunungan demi mendapatkan daun pakis liar yang segar agar cita rasa autentiknya tetap terjaga.
Kerja keras tersebut berbuah manis. Pemilik Warung Mbok Tin, Novi Mahmud Subarkah, mengaku kulinernya kini tidak hanya memikat lidah warga Kudus saja, melainkan juga wisatawan dari luar daerah seperti Pati, Jepara, hingga Semarang. Dalam sehari, warung ini mampu menjual hingga lebih dari 100 porsi ayam panggang.
“Kami mengombinasikan resep keluarga yang diwariskan turun-temurun dengan cita rasa lokal khas lereng Muria, yaitu pecel pakis,” jelas Novi.
Baca juga: Nasi Jagung Kedungjati: Kuliner Sehat di Grobogan yang Harganya Cuma Rp3 Ribu
Suasana Tempo Dulu yang Ramah Kantong
Sembari memanjakan lidah, pengunjung juga akan disuguhi atmosfer warung yang kental dengan nuansa Kudus tempo dulu, menjadikannya tempat yang sangat ramah untuk berfoto bersama keluarga.
Untuk menikmati satu porsi kuliner legendaris ini, pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harganya relatif terjangkau, mulai dari Rp35.000 per potong hingga Rp125.000 untuk satu ekor ayam kampung utuh yang disajikan lengkap dengan sambal pedas, lalapan, serta aneka gorengan hangat. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin














