LINIKATA.COM, PATI – Kabupaten Pati kembali menghadirkan destinasi kuliner unik yang siap memanjakan lidah para pencinta masakan tempo dulu. Mengambil lokasi di Alun-Alun Kembangjoyo, sebuah tempat makan bernama Lapak Jadul Mak’e hadir menyajikan aneka kudapan khas pedesaan Bumi Mina Tani yang kini mulai langka ditemukan di era modern.
Menariknya, lapak kuliner ini diinisiasi dan dikelola langsung oleh tiga seniman senior lintas kecamatan di Kabupaten Pati. Mereka adalah Ratna Septi Anggrahenie alias Emak Bathok dari Desa Muktiharjo (Margorejo), Endang Sriasih alias Emak Susur asal Desa Sumbersari (Kayen), serta Triyono alias Lik Kribo asal Desa Sukoharjo (Wedarijaksa).
Melalui kolaborasi unik ini, para pelaku seni tersebut berkomitmen untuk kembali mempopulerkan ragam kuliner lezat warisan leluhur yang mulai asing bagi generasi muda saat ini.
“Konsep kami memang mengangkat kuliner jadul di Pati seperti brabuk atau nasi jagung dengan pelengkapnya sayur lompong, sayur pokak, serta lauk pauk tradisional. Ada bothok yuyu (kepiting sawah), udang kali, hingga pepes wader kali yang kami bawa ke sini untuk meramaikan menu. Ke depan, kami juga berencana menghadirkan makanan khas yang hampir punah seperti tahu telur dan ayam kodok,” ungkap Ratna Septi Anggrahenie kepada awak media, Sabtu (30/5/2026).
Baca juga: Jual Mi Ayam Rp5 Ribu di Tlogowungu Pati, Alasan Rustin Bikin Haru
Menu Mulai Rp3.000, Jualan Sambil Bernyanyi Pakaian Adat
Lapak Jadul Mak’e menawarkan variasi menu tradisional yang sangat ramah di kantong, dengan rentang harga mulai dari Rp3.000 hingga Rp5.000 saja per porsi. Untuk mencicipi hidangan di sini, pengunjung bisa datang pada hari Senin, Selasa, Rabu, Sabtu, dan Minggu, mulai pukul 16.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Ketiga seniman ini sebenarnya sudah tidak asing lagi di mata masyarakat lokal. Saban gelaran Car Free Day (CFD) Pati, lapak dagangan mereka selalu dipadati pengunjung hingga ludes dalam sekejap.
Kekhasan lain dari lapak ini terletak pada metode pemasarannya. Saat melayani pembeli, trio seniman ini selalu tampil totalitas mengenakan pakaian adat tradisional Jawa. Tidak hanya itu, mereka juga kerap menarik perhatian pengunjung alun-alun dengan cara bernyanyi ceria sekaligus mengenalkan karya kesenian yang mereka geluti.
Baca juga: Asyiknya Nyore di Angkringan Semar, Cuma 10 Menit dari Alun-Alun Pati
Misi Solidaritas Hidupkan Alun-Alun Kembangjoyo
Di balik misi melestarikan kuliner lokal, kehadiran Emak Bathok dan kolega di Alun-Alun Kembangjoyo ternyata didasari oleh aksi solidaritas. Mereka sengaja turun gunung untuk membantu menggeliatkan kembali aktivitas ekonomi para Pedagang Kaki Lima (PKL) setempat yang belakangan ini mengeluhkan sepinya pembeli.
Langkah taktis para seniman ini rupanya berbuah manis. Sejak resmi membuka lapak di pusat kuliner tersebut, antusiasme masyarakat langsung membeludak.
“Sudah seminggu jualan di sini, bahkan sejak hari pertama dagangan yang kami bawa langsung habis terjual. Kami digandeng sebagai pelaku kesenian untuk membantu meramaikan lapak UMKM di Alun-Alun Kembangjoyo,” tambah Ratna.
Guna memperluas jangkauan pasar dan mengenalkan kearifan lokal Pati ke tingkat nasional, Ratna aktif membagikan keseruan aktivitas jualannya melalui platform media sosial. Strategi digital ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan luar daerah untuk datang dan mencicipi sensasi kuliner jadul di Kabupaten Pati. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













