LINIKATA.COM, PATI – Volume air Waduk Gembong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, mengalami penyusutan drastis sejak beberapa pekan terakhir akibat dampak kemarau panjang. Imbasnya, pengairan lahan pertanian diprediksi hanya mampu dilakukan dalam dua pekan ke depan.
Waduk yang terletak di wilayah Desa Gembong dan Pohgading tersebut mengalami penurunan volume air hingga lebih dari 70 persen. Sebagian besar area dasar waduk kini tampak mengering dan dasarnya mulai terlihat.
Operator Waduk Gembong, Susanto, memaparkan bahwa volume air saat ini tinggal menyisakan sekitar 2,4 juta meter kubik dari kapasitas total awal penuh sebanyak 9,5 juta meter kubik.
”Untuk volume Waduk Gembong sendiri sekarang tinggal 2.400.000 meter kubik. Dari volume awal penuh itu 9.500.000 meter kubik. Kemungkinan untuk saat ini dari 2.400.000, kalau ada permintaan petani ya, sekitar (tinggal) dua mingguan,” ujar Susanto saat ditemui di lokasi, Rabu (2/9/2026).
Baca juga: Sungai Juwana Kering, Petani Karangrowo Pati Terancam Gagal Panen
Andalan Lima Kecamatan
Susanto mengungkapkan, Waduk Gembong selama ini menjadi tumpuan utama sistem irigasi pertanian yang mencakup puluhan desa di lima kecamatan. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Margorejo, Pati, Tlogowungu, Wedarijaksa, dan Gembong.
Saat ini, debit pengeluaran air telah mencapai 1.200 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan irigasi warga, dengan permintaan tertinggi datang dari wilayah Kecamatan Margorejo.
”Ini untuk lima kecamatan. Kemarin sudah mulai pengeluaran 1.200 liter per detik. Terus ini yang paling banyak permintaan dari Kecamatan Margorejo,” ungkapnya.
Apabila dalam dua pekan ke depan tidak kunjung turun hujan atau mendapat pasokan air tambahan, waduk dipastikan tidak lagi mampu mendistribusikan air untuk sektor pertanian.
”Kalau setelah dua minggu kemungkinan tidak bisa keluar lagi (airnya). Soalnya itu kan buat pembahasan area, pembasahan tubuh dam,” kata dia.
Baca juga: Kemarau Panjang, Ribuan Hektare Sawah di Pati Terancam Gagal Panen
Sisakan Cadangan untuk Keamanan Struktur Bendungan
Lebih lanjut, Susanto menjelaskan bahwa sisa air nantinya bukan diperuntukkan bagi irigasi petani, melainkan disiagakan khusus untuk proses pembasahan tubuh bendungan (body dam). Langkah ini wajib dilakukan guna mengantisipasi kerusakan struktur bangunan akibat kekeringan ekstrem.
”Untuk pembasahan sendiri itu kita biasa menampung 500.000 meter kubik. Setelah itu tidak bisa didistribusi. Pembasahan itu digunakan supaya tubuh bendung sendiri tidak ada retakan atau dari bangunan ini sendiri tuh lebih aman, Mas. Biar tidak ada retakan sama rembesan-rembesan,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














