LINIKATA.COM, PATI – Kritisnya volume air di Waduk Gembong, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, membuat pengelola terpaksa mengetatkan distribusi irigasi. Di tengah ancaman kekeringan ekstrem pada puncak musim kemarau 2026 ini, para petani di wilayah irigasi diimbau agar tidak terburu-buru memulai penanaman padi pada masa tanam (MT) 1.
Operator Waduk Gembong, Susanto, mengungkapkan bahwa volume air saat ini telah merosot tajam ke kisaran 2,2 juta meter kubik dari kapasitas normal penuh yang mencapai 9,5 juta meter kubik. Guna mencegah risiko gagal panen akibat pasokan air yang terputus di tengah jalan, pihak pengelola bersama instansi terkait langsung mengambil langkah persuasif.
Langkah tersebut ditempuh lewat penyuluhan intensif yang melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) serta Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk memberikan pemahaman kepada para petani.
“Kami bersama UPT dan P3A melakukan penyuluhan kepada para petani agar tidak memulai menanam padi, karena debit air semakin berkurang. Selain itu, kami meminimalkan pemakaian air,” ujar Susanto saat dikonfirmasi, Jumat (4/9/2026).
Baca juga: Volume Air Waduk Gembong Pati Susut 70 Persen, Cadangan Tinggal 2 Pekan
Debit Irigasi Dipangkas
Sebagai langkah mitigasi di lapangan, pengelola juga telah menurunkan debit air yang digelontorkan ke jaringan irigasi. Jika dalam kondisi normal pengeluaran air bisa mencapai 1.500 liter per detik tergantung permintaan, kini keran distribusi dipangkas turun.
“Kalau debit air masih banyak biasanya keluar 1.500 liter per detik, itu pun tergantung permintaan petani. Untuk saat ini keluar 900 liter per detik,” kata Susanto.
Waduk Gembong sendiri selama ini menjadi tumpuan utama sistem irigasi pertanian di sejumlah wilayah, meliputi Kecamatan Margorejo, Pati Kota, Gembong, dan Wedarijaksa, dengan permintaan terbesar berasal dari kawasan Margorejo.
Baca juga: Krisis Air Waduk Gembong Pati: Terparah Sejak 6 Tahun Terakhir
Sisakan Batas Aman
Kendati demikian, pengelola memastikan tidak akan menyedot seluruh air yang tersisa. Terdapat batas mutlak sebesar 500.000 meter kubik atau yang disebut batas pembasahan (body dam) yang harus dipertahankan. Cadangan mati tersebut wajib dijaga demi menghindari retakan, rembesan, maupun kerusakan struktur pada tubuh bendungan dan bangunan intake.
“Untuk pembasahan itu digunakan supaya tubuh bendung sendiri tidak ada retakan atau dari bangunan intake sendiri itu lebih aman. Biar nggak ada retakan sama rembesan,” tegasnya.
Dengan sisa air yang ada, pengelola memperkirakan pasokan untuk irigasi hanya mampu bertahan sekitar dua pekan apabila permintaan dari petani tetap berjalan, sebelum akhirnya ditutup total demi keamanan struktur bangunan waduk.
“Untuk saat ini dari 2,4 juta, kalau ada permintaan petani sekitar dua mingguan,” ungkapnya.
Mengingat beratnya beban kemarau tahun 2026 yang dinilai jauh melampaui tahun sebelumnya, pengelola berharap kesadaran penuh dari para petani untuk mematuhi imbauan tersebut demi menghindari kerugian yang lebih besar. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













