LINIKATA.COM, KUDUS – Sebanyak 1.091 warga atau 375 kepala keluarga (KK) di Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, kini terdampak kekeringan hebat yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih warga semakin sulit dipenuhi.
Akibat sumur galian yang mengering, masyarakat terpaksa membeli air kemasan atau mengambil air dari daerah lain, termasuk wilayah Prawoto, Kabupaten Pati, demi bertahan hidup.
Salah seorang warga RW 3, Sarah Solekhah (55), menuturkan bahwa kekeringan di lingkungannya bahkan sudah terasa hampir satu bulan. Sumur utama keluarganya kini sama sekali tidak lagi mengeluarkan air.
“Sumur sudah kering satu bulan lalu. Kalau untuk minum saya terpaksa beli air kemasan. Sementara untuk mencuci baju, saya harus ngangsu (mengambil) air dari tempat lain,” ujar Sarah.
Baca juga: Nunggak Bayar Pajak Motor, ASN Pemkab Kudus Bakal Disanksi Disiplin
Ia mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan air minum, dan keperluan rumah tangga harian. Menurut Sarah, kekeringan memang rutin terjadi setiap tahun, namun tahun ini jauh lebih parah karena kemarau diprediksi berlangsung lebih lama.
Keluhan serupa disampaikan oleh Lailatus Sa’adah (35). Meski sumurnya belum mengering total, debit air yang tersisa sangat minim. Ia terpaksa menumpang mencuci dan mandi di rumah kerabatnya yang masih memiliki air.
“Ini baru saja mengambil cucian dari rumah saudara. Di rumah saya sudah kering sekitar dua mingguan,” katanya.
Pemdes Glagahwaru Ajukan Permohonan Drop Air Bersih ke BPBD Kudus
Kepala Desa Glagahwaru, Nurdi, membenarkan bahwa krisis air bersih sejauh ini masih terkonsentrasi di wilayah RW 3. Pemerintah desa bergerak cepat dengan mengajukan permohonan bantuan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus.
“BPBD telah merespons dan mengirimkan bantuan dropping air bersih sebanyak dua kali menggunakan armada tangki,” jelas Nurdi.
Baca juga: Dua Tahun Berturut-turut, SD 5 Hadipolo Kudus Hanya Dapat 3 Murid Baru
BPBD Siagakan Jutaan Liter Cadangan Air Hadapi Kemarau Ekstrem
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus Eko Hari Djatmiko, melalui Kepala Seksi Kedaruratan Ahmad Munaji, mengonfirmasi bahwa sejauh ini laporan kekeringan di Kabupaten Kudus baru diterima dari Desa Glagahwaru.
“Berdasarkan laporan masuk, baru di Glagahwaru. Kami sudah langsung mengirimkan bantuan dropping air ke lokasi,” ucap Munaji.
Sambungnya, untuk mengantisipasi perluasan dampak kemarau ekstrem tahun ini, BPBD Kudus telah menyiagakan cadangan air bersih sebanyak 2,5 juta liter. Setiap pengiriman tangki membawa sekitar 5.000 liter air bersih.
“Distribusi akan terus dilakukan secara berkala sesuai permintaan dari pihak desa yang terdampak,” pungkasnya. (LK9)
Editor: Ahmad Muhlisin















