LINIKATA.COM, PATI – Dua bulan lamanya, puluhan warga di pesisir Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, terpaksa bertahan hidup di tengah kepungan banjir rob. Tidur di atas ranjang seadanya yang basah dan lembap oleh air laut kini menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat.
Merespons penderitaan tersebut, lembaga kemanusiaan YAKKUM Emergency Unit (YEU) bergerak cepat menyalurkan bantuan 58 paket perlengkapan tidur berupa kasur lipat, tikar, dan selimut, Sabtu (27/6/2026). Bantuan tersebut didistribusikan langsung kepada warga di dua lokasi terdampak paling parah, yakni Desa Tunggulsari dan Desa Keboromo, Kecamatan Tayu
Staf YEU Pati, Eli Sunarso, menjelaskan, karena keterbatasan jumlah logistik yang tersedia, alokasi bantuan ini difokuskan secara selektif melalui verifikasi. Penyaluran diprioritaskan bagi warga yang masuk dalam kategori kelompok rentan.
“Menyikapi banjir rob yang terjadi di Desa Tunggulsari dan Desa Keboromo, kami menyalurkan 58 paket perlengkapan tidur. Sebanyak 44 paket didistribusikan di Desa Tunggulsari dan 14 paket di Desa Keboromo,” kata Eli Sunarso di sela-sela menyalurkan bantuan di Desa Tunggulsari.
Eli menambahkan, penentuan penerima manfaat ini telah dikonsolidasikan bersama pemerintah desa setempat agar tepat sasaran.
“Prioritas kami adalah kelompok rentan, seperti lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, ibu hamil, dan ibu menyusui. Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak,” imbuhnya.
Selain menyalurkan bantuan, YEU saat ini juga tengah mengawal program kesiapsiagaan bencana di empat desa pesisir yaitu Tunggulsari dan Keboromo, Kecamatan Tayu, serta Desa Banyutowo dan Desa Tegalombo, Kecamatan Dukuhseti
Baca juga: Tolak Menyerah pada Krisis Iklim, Warga Pesisir Pati Belajar Usaha Baru
Kasur dan Alas Tidur Warga Rusak Terendam
Hadirnya bantuan perlengkapan tidur dari lembaga yang berpusat di Yogyakarta ini disambut antusias oleh warga. Banyak di antara mereka yang terpaksa tidur di atas tempat seadanya lantaran perabotan rumah tangga, termasuk kasur, rusak terendam air asin.
Suparno, salah satu warga penerima manfaat di Desa Tunggulsari, mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barangnya saat air laut tiba-tiba naik drastis menggenangi ruangan rumah.
“Karena banjir rob, beberapa barang di rumah terendam karena tidak sempat diangkat. Alhamdulillah, perlengkapan yang diberikan YEU sangat membantu,” ucap Suparno.
Senada dengan Suparno, warga lainnya bernama Marmi menceritakan kekhawatirannya bertahan di tengah genangan air yang terus meninggi, terutama karena dirinya harus mengasuh anak balita.
“Selama sekitar satu minggu terakhir, banjir rob sudah mencapai setinggi lutut. Sempat kami naikkan kasur ke tempat yang lebih tinggi, tetapi air ternyata terus naik hingga basah semua. Bantuan dari YEU setidaknya membuat kami memiliki perlengkapan layak untuk beristirahat dan tidur,” tutur Marmi.
Baca juga: 2 Bulan Terendam Rob, Linikata dan IJTI Beri Bantuan untuk Warga Tunggulsari
Puncak Pasang Air Laut Diprediksi Hingga Juli
Bencana musiman di wilayah utara Pati ini dilaporkan kian meluas akibat jebolnya sejumlah infrastruktur pelindung pantai. Kerusakan kawasan hutan mangrove pesisir memperparah hantaman ombak saat air laut mengalami pasang tinggi.
Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, mengungkapkan bahwa tanggul sepanjang 110 meter yang rusak menjadi pemicu utama air laut dengan mudah menerobos masuk dan merendam permukiman serta lahan pertambakan warga.
“Banjir rob ini sudah berulang dari tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah desa bersama masyarakat telah melakukan berbagai upaya mitigasi, seperti perbaikan tanggul dan penanaman mangrove. Namun, perbaikan tanggul yang rusak memerlukan sumber daya yang besar dan dukungan berbagai pihak,” papar Setyo.
Situasi ini diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat. Berdasarkan perkiraan BMKG dan data teknis lapangan, siklus puncak pasang air laut di wilayah perairan Tayu masih akan berlangsung hingga Juli 2026 mendatang. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















