LINIKATA.COM, PATI – Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) Emergency Unit (YEU) menyiapkan program pelatihan mata pencarian alternatif bagi warga di empat desa pesisir Kabupaten Pati. Langkah ini diambil sebagai strategi adaptasi bagi warga yang pekerjaan utamanya mulai terdampak krisis iklim.
Program yang akan berjalan hingga 2028 ini menyasar Desa Tunggulsari dan Keboromo di Kecamatan Tayu, serta Desa Banyutowo dan Tegalombo di Kecamatan Dukuhseti. Pelatihan usaha ini akan beriringan dengan penguatan kesiapsiagaan bencana di Kabupaten Pati.
Project Manager YEU, Eli Sunarso, mengungkapkan bahwa pelatihan ekonomi ini dirancang agar warga punya alternatif usaha lain yang lebih berpotensi. Mengingat, mata pencarian utama mayoritas warga mulai terdampak bencana atau perubahan iklim.
Baca juga: MAN 2 Pati Peringati Harlah ke-30 dengan Tanam Ribuan Mangrove di Tunggulsari
“Mungkin usaha saat ini sudah tidak berpotensi yang tidak memungkinkan untuk dilanjutkan sehingga ada alternatif usaha yang lain. Yang mendesain usahanya adalah masyarakat atau kelompok itu sendiri dengan mendasarkan pada potensi lokal yang ada,” ujar Eli Sunarso di Balai Desa Tunggulsari, Kamis (4/6/2026).
Agar tidak memicu persaingan komoditas, YEU mengarahkan agar tiap desa mengembangkan produk yang berbeda. Rencananya, jenis usaha akan disesuaikan dengan usulan warga dan keunikan bahan baku setempat. Warga juga akan dibekali manajemen rantai pasok hingga akses modal.
“Nanti akan ada pelatihan di setiap desa, tentunya disesuaikan dengan usahanya masing-masing, ya. Kami berharap di setiap desa usahanya berbeda-beda, supaya satu dengan yang lain bisa saling berhubung, bukan berkompetisi,” tambahnya.
Manfaatkan Peran Perempuan dan Kelompok Rentan
Menariknya, motor penggerak dari mata pencarian alternatif ini akan berpusat pada kelompok perempuan dan warga rentan lainnya, seperti warga lanjut usia (lansia) serta penyandang disabilitas. Teknisnya, YEU menargetkan pembentukan tiga kelompok usaha baru yang dikelola langsung oleh keterwakilan perempuan di tiap desa sasaran, dengan target jangkauan mencapai puluhan warga.
“Di setiap desa rencananya akan ada tiga usaha ekonomi perempuan dan tentunya didukung oleh laki-laki. Rencananya di setiap kelompok paling tidak ada 25 perempuan. Kalau setiap desa ada tiga berarti ada 75 perempuan yang dengan usaha yang berbeda,” paparnya.
Baca juga: 100 Ha Tambak di Tunggulsari Pati Terendam Banjir, Kerugian Capai Rp5 M
Pelatihan Kebencanaan dan Pembentukan Tim Siaga Desa
Pelatihan kemandirian ekonomi ini juga beriringan dengan pelatihan kesiapsiagaan bencana. Menurut Eli, warga di empat desa tersebut tidak hanya diberikan materi teori, melainkan juga didorong untuk membentuk sistem mitigasi mandiri.
“Nanti akan ada sosialisasi PRB (pengurangan risiko bencana), pelatihan penanggulan bencana, termasuk juga akan mendorong terbentuknya kelompok atau tim siaga atau forum pengurangan risiko bencana di masing-masing desa,” jelas Eli.
Lebih lanjut, forum atau tim siaga yang terbentuk nantinya akan didampingi untuk menyusun rencana kesiapsiagaan di tiap-tiap desa. YEU juga berkomitmen untuk memfasilitasi kebutuhan sarana operasional warga di lapangan.
“Sampai pada menyusun rencana kesiap-siagaan di tiap-tiap desa, kesiap-siagaan bencana, dan kita juga berupaya untuk memperlengkapi tim atau kelompok siaga itu dengan peralatan atau perlengkapan yang memadai, yang bisa mendukung untuk fungsi-fungsi perannya,” tambahnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















