LINIKATA.COM, PATI – Pemerintah daerah bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) langsung bergerak cepat melakukan penanganan darurat terhadap jebolnya tanggul sungai yang memicu banjir di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Langkah taktis ini diambil guna mempercepat pemulihan kawasan pemukiman warga yang lumpuh terendam air.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa penanganan kerusakan tanggul di Sungai Widodaren tersebut kini sepenuhnya diambil alih oleh pihak BBWS dengan menerapkan metode penguatan yang lebih permanen.
“Hari ini saya ke Ketitangwetan, Raci, dan Ngening, memang masih ada genangan. Namun, saat ini sudah langsung penanganan dengan kawat bronjong, tidak perlu dengan sandbag (karung pasir),” ujar Martinus Budi Prasetyo saat diminta konfirmasi, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: 3 Hari Banjir Ketitangwetan Pati, Warga Keluhkan Pemerintah Lamban
Kerahkan Alat Berat dan Bronjong Kawat, Diklaim Lebih Kuat
Guna mengejar target percepatan, BBWS dilaporkan telah menerjunkan alat berat ke lokasi titik kerusakan tanggul. Martinus menilai, pemilihan material kawat bronjong jauh lebih efektif dan memiliki daya tahan yang tinggi dalam membendung arus sungai luar ketimbang opsi darurat lainnya.
“Kalau BBWS sudah mengerahkan alat beratnya dan kawat bronjong sudah mulai pengerjaan, artinya sudah ada koordinasi baik. Yang jelas, kawat bronjong itu lebih kuat daripada penanganan dengan sandbag dan trucuk bambu,” tegasnya mendalam.
Sebagai informasi, banjir yang merendam ratusan rumah warga, akses jalan desa, hingga fasilitas tempat ibadah ini dipicu oleh tingginya curah hujan dalam tiga hari terakhir. Kondisi tersebut diperparah oleh pendangkalan sedimentasi di aliran Sungai Widodaren dan Sungai Kaliombo, sehingga debit air yang meluap langsung menjebol tanggul dan menginvasi perkampungan.
Baca juga: Banjir di Ketitangwetan Pati Makin Tinggi, 400 Rumah Terendam
Warga Desak Pemerintah Optimalkan Pompa Air
Kendati penanganan fisik tanggul mulai digarap, sejumlah warga terdampak di lapangan tetap mendesak pemerintah untuk melakukan langkah evakuasi air taktis jangka pendek. Pasalnya, genangan air di area dalam permukiman dinilai lambat surut akibat curah hujan yang masih konsisten tinggi.
Salah satu warga setempat, Ali Masrukin, berharap ada bantuan mesin pompa air portabel berkapasitas besar dari instansi terkait untuk menyedot genangan air yang mengunci aktivitas harian warga.
“Sudah tiga hari ini banjir belum surut. Penyebabnya hujan deras tidak reda-reda. Apakah tidak ada alat atau pompa untuk menyedot air agar banjir di perkampungan ini cepat surut?” tanya Ali Masrukin. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














