LINIKATA.COM, DEMAK – Di atas jembatan kayu dan genangan air laut yang mengepung permukiman, warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menggelar upacara memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026).
Meski diguyur banjir rob yang kian menenggelamkan wilayah pesisir tersebut, pengibaran bendera Merah Putih tetap berlangsung dengan khidmat.
Dari pantauan udara, daratan di Desa Timbulsloko nyaris tak terlihat lagi. Aktivitas sehari-hari warga sepenuhnya mengandalkan titian kayu swadaya yang menghubungkan rumah ke rumah.
Semangat para warga dan petugas pengibar bendera tak surut meski harus berbasah-basahan di dalam air. Saat momen detik-detik Proklamasi tiba, seluruh peserta berbaris tegap mengumandangkan Indonesia Raya.
Suasana haru kian terasa ketika sejumlah ibu rumah tangga di sekitar lokasi memilih menghentikan aktivitasnya sejenak untuk ikut menyanyikan lagu kebangsaan.
Sebagai simbol ketahanan dan keprihatinan, warga juga membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 20 meter di atas bentangan air yang merendam kampung mereka.
Rangkaian upacara dilanjutkan dengan doa bersama bagi para pahlawan bangsa sekaligus keselamatan warga yang hingga kini belum mendapat penanganan permanen atas krisis abrasi ini.
Baca juga: Rob Tunggulsari Pati Kian Parah, 80 Rumah di 5 RT Terendam
Keprihatinan Abrasi Pesisir Sayung
Kepala Desa Timbulsloko, Nadirin, menuturkan bahwa abrasi mulai mengikis daratan desa secara perlahan sejak satu dekade terakhir. Saat ini, sedikitnya 110 Kepala Keluarga (KK) memilih bertahan di tengah kepungan air laut.
”Biasanya warga upacara di sekolah masing-masing, tetapi kali ini semua berkumpul di sini. Dulunya, antara tahun 2009 sampai 2016, Timbulsloko masih utuh ada sawah, tambak, dan tegalan. Namun, kondisi alam yang tidak bersahabat membuat wilayah kami jadi seperti ini,” ungkap Nadirin.
Ia menegaskan, warga sangat membutuhkan pembangunan tanggul laut (sea wall) dari pemerintah sebagai benteng pertahanan agar abrasi tidak terus meluas dan menghancurkan desa-desa di sekitar Sayung.
Baca juga: YEU Latih Warga Tunggulsari Pati Beradaptasi dengan Banjir Rob
Meluasnya Krisis Lingkungan di Demak
Harapan untuk terbebas dari genangan air juga disuarakan oleh generasi muda di desa tersebut.
”Saya ikutan upacara di sini. Sedih melihat banjirnya begini terus dan tidak pernah surut. Inginnya bisa cepat surut supaya tanahnya bisa ditanami lagi dan kami bisa bermain,” tutur Abi, siswa SDN 1 Timbulsloko.
Kondisi Desa Timbulsloko menggambarkan krisis lingkungan yang meluas di pesisir Kabupaten Demak. Terdata ada sekitar 32 desa yang terdampak abrasi dan banjir rob di empat kecamatan, yaitu Sayung, Bonang, Wedung, dan Karangtengah. Kecamatan Sayung menjadi lokasi yang mengalami kerusakan terparah, dengan 18 dari 20 desanya kini terus tergerus limpasan air laut. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin














