LINIKATA.COM, DEMAK – Memasuki hari keenam pascabencana banjir bandang yang melanda Dusun Slondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, duka masih menyelimuti warga. Hingga Rabu (8/4/2026), getirnya dampak tanggul jebol masih sangat terasa; rumah-rumah yang hancur kini hanya menyisakan puing, sementara warga harus bertahan hidup dengan keterbatasan yang memprihatinkan.
Kondisi permukiman di wilayah ini jauh dari kata layak. Akibat dahsyatnya terjangan air pada Jumat (3/4/2026) lalu, banyak warga kehilangan tempat tinggal. Kini, mereka terpaksa menumpang di rumah kerabat atau tetangga yang masih berdiri. Di salah satu rumah kayu yang kondisinya sudah rusak, terpantau dihuni hingga 11 orang yang tidur berdesakan dengan fasilitas seadanya.
Masalah paling krusial yang dihadapi warga saat ini adalah akses air bersih. Putusnya jaringan pipa air membuat warga kehilangan sumber sanitasi utama. Ifa, salah seorang warga terdampak, mengaku terpaksa menggunakan air sisa banjir yang keruh untuk kebutuhan mencuci hingga mandikan anak-anak. Bahkan baju yang dikenakan pun sudah beberapa hari dia kenakan.
Baca juga: Dampak Jebolnya Tanggul Sungai Tuntang Meluas, 2 Kecamatan di Demak Terendam Banjir
“Untuk mencuci, mandi, sampai berwudhu, kami terpaksa pakai air dari kubangan sisa banjir ini. Tidak ada pilihan lain karena pipa air mati total,” keluh Ifa sembari menggendong anaknya.
Selain air bersih, bantuan untuk balita dan anak-anak juga dilaporkan masih sangat minim. Banyak orang tua yang tidak mampu membeli susu atau pakaian ganti karena seluruh harta benda mereka telah hanyut tersapu arus.
Duka mendalam juga dirasakan oleh Sulaiman, seorang buruh tani setempat. Banjir bandang tidak hanya merobohkan rumahnya hingga hanya menyisakan atap, tetapi juga melenyapkan hasil keringatnya. Uang upah kerja selama 10 hari dan tabungan senilai Rp7,5 juta yang ia simpan rapi raib terbawa air.
“Waktu kejadian, saya cuma mikir selamatkan cucu sama empat ekor kambing ke atas tanggul. Uang hasil buruh tani yang saya simpan di caping hilang semua. Dua motor juga terseret sampai ke tengah sawah,” kenang Sulaiman dengan nada lirih.
Baca juga: Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Pasutri di Demak Ini Tetap Teguh Persiapkan Haji
Hingga saat ini, material lumpur tebal setinggi mata kaki masih menutupi sebagian akses utama desa. Sejumlah relawan dari berbagai unsur terus berjibaku bersama warga untuk membersihkan sisa-sisa material dan menata kembali permukiman yang porak-poranda.
Di sisi lain, alat berat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana terus bekerja ekstra cepat melakukan perbaikan permanen pada titik tanggul yang jebol. Petugas berpacu dengan waktu guna memperkuat tanggul sebelum kiriman air dari wilayah hulu kembali datang, demi mencegah bencana susulan yang lebih besar. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin















