LINIKATA.COM, KUDUS – Kemeriahan perayaan Syawalan di lereng Pegunungan Muria kembali memuncak. Sebanyak 18 gunungan raksasa yang berisi ketupat, lepet, dan hasil bumi ludes menjadi rebutan ribuan warga dalam gelaran Parade Sewu Kupat Muria 2026 di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Sabtu (28/3/2026).
Tradisi yang diwariskan sejak era Sunan Muria (Raden Umar Said) ini berlangsung khidmat sekaligus meriah. Antusiasme warga sudah terlihat sepanjang jalur kirab, mulai dari kompleks Makam Sunan Muria hingga berakhir di Taman Ria Colo.
Bukan sekadar kemeriahan visual, festival ini membawa makna mendalam sebagai bentuk rasa syukur masyarakat lereng Muria setelah tuntas menjalani ibadah puasa Ramadan.
Baca juga: 13 Desa di Pesisir Pati Bakal Gelar Sedekah Laut, Polisi Siapkan Skema Pengamanan
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa agenda tahunan ini memiliki peran ganda dalam pelestarian budaya untuk menjaga warisan leluhur agar tetap relevan di mata generasi muda serta penggerak ekonomi dalan menjadi magnet wisatawan yang berdampak langsung pada sektor pariwisata dan ekonomi lokal di kawasan Muria.
Momen “Ngalap Berkah” yang Dinanti
Suasana berubah riuh saat doa yang dipimpin tokoh masyarakat selesai dipanjatkan. Tanpa dikomando, warga langsung merangsek maju demi mendapatkan isi gunungan.
“Saya sengaja datang untuk mencari berkah. Alhamdulillah dapat ketupat, lepet, terong, sampai tomat. Nanti mau dimasak dan dimakan bareng keluarga di rumah,” ujar Emi, pemudik asal Desa Glagah Kulon yang menyempatkan hadir sebelum kembali ke perantauan.
Hal serupa dirasakan oleh Nisa, pengunjung asal Jepara. Meski harus berdesakan, ia merasa puas bisa mendapatkan buah parijoto buah khas Muria yang diyakini memiliki banyak khasiat.
“Seru sekali, bisa merayakan Lebaran Ketupat ramai-ramai di udara sejuk Muria,” ungkapnya.
Baca juga: Jelang Kupatan, Penjual Janur di Pasar Juwana Baru Pati Sepi Pembeli
Jamuan Bersama di Sejuknya Lereng Muria
Pesta rakyat ini ditutup dengan sesi makan bersama. Panitia telah menyiapkan ribuan porsi ketupat lengkap dengan kuah sayur gurih yang dibagikan secara gratis.
Di tengah sejuknya udara pegunungan, warga duduk melingkar menikmati hidangan, menyempurnakan filosofi “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) yang menjadi inti dari tradisi kupatan. (LK6).
Editor: Ahmad MuhlisinÂ














