LINIKATA.COM, PATI – Fenomena tanah ambles kembali menerjang kawasan Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Bencana pergerakan tanah ini mengakibatkan sebanyak tujuh unit ruko mengalami kerusakan parah hingga memaksa para pemiliknya mengosongkan tempat usaha.
Kepala Desa Purworejo, Duwi Sumaryono, mengungkapkan bahwa peristiwa tanah ambles tersebut terjadi pada Selasa (25/8/2026) dini hari. Berdasarkan tinjauan di lapangan, kedalaman tanah yang ambles tercatat berkisar antara 50 hingga 200 sentimeter.
Dampak kerusakan terkonsentrasi di sepanjang area lambiran Sungai Silugonggo, tepatnya di wilayah RT 3 / RW 5 Dukuh Guyangan. Selain bangunan ruko, struktur talud atau pagar beton pembatas Sungai Silugonggo sepanjang 400 meter turut mengalami kerusakan berat.
“Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, luka-luka maupun korban dari rumah penduduk, hanya pagar/ talud beton pembatas Sungai Silugonggo yang mengalami kerusakan sepanjang sekitar 400 meter,” ujar Sumaryono.
Baca juga: Fenomena Tanah Gerak di Tondomulyo Pati, Ancam Pertanian dan Permukiman
Sumaryono menambahkan, insiden serupa sebetulnya pernah terjadi pada tahun 2024 silam. Pada saat itu, penanganan perbaikan masih berada dalam ruang lingkup tanggung jawab pihak kontraktor pelaksana proyek.
“Kejadian tanah longsor serupa sudah pernah terjadi sekitar pada tahun 2024, namun demikian pada saat itu masih menjadi tanggung jawab pelaksana PT. WIKA (Pemborong Pembangunan Bendung Karet Juwana),” kata dia.
Belum Ada Penanganan
Kendati bencana susulan telah terjadi pada tahun 2026 ini, Sumaryono menyayangkan belum adanya langkah penanganan darurat maupun perbaikan fisik dari instansi terkait. Pihak desa pun telah melayangkan laporan resmi melalui Camat Pati agar segera diteruskan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati.
“Untuk sementara belum ada penanganan dari BPBD ataupun Kabupaten, cuman kita sudah menginformasikan lewat camat untuk disampaikan ke BPBD,” imbuhnya.
Baca juga: Sungai Silugonggo Kering, Pasokan Air PDAM Pati ke 41 Ribu Pelanggan Tersendat
Ancam Permukiman
Berdasarkan analisis sementara di lapangan, amblesnya kontur tanah di lokasi tersebut dipicu oleh penurunan drastis debit air di Sungai Silugonggo. Selain itu, struktur fondasi pagar beton pembatas dinilai kurang tertanam secara maksimal.
“Longsor terjadi diperkirakan karena Sungai Silugonggo mengalami penurunan debit air, dan mungkin juga karena pagar beton pembatas atau paku bumi kurang dalam, sehingga terkesan mengambang,” terangnya.
Pemerintah desa berharap penanganan darurat dapat segera dilakukan. Jika dibiarkan tanpa intervensi teknis, potensi kerusakan dikhawatirkan kian meluas dan mengancam keselamatan permukiman warga sekitar.
“Potensi kerusakan semakin meluas terhadap pagar beton pembatas sungai, maupun ruko/rumah warga di sekitar lokasi apabila terjadi pergerakan tanah lanjutan,” tandasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














