LINIKATA.COM, PATI – Kemarau panjang berdampak pada mengeringnya Sungai Silugonggo utamanya di Bendung Karet Sungai Juana, Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Kondisi tersebut menyebabkan ribuan ikan sapu-sapu terdampar.
Dasar sungai yang berubah menjadi kubangan lumpur itu mendadak ramai oleh aktivitas warga. Kemunculan ribuan ikan sapu-sapu dalam jumlah masif itu lantas dimanfaatkan warga untuk mendulang pundi-pundi rupiah.
Pantauan di lokasi, belasan warga tampak sibuk memunguti ikan-ikan berukuran besar yang terjebak di antara lumpur. Salah satu warga, Saiful menyebutkan bahwa hasil tangkapan ikan sapu-sapu tersebut tidak dikonsumsi sendiri, melainkan ditampung untuk dikirim ke pabrik pembuatan pelet ikan.
”Ini ambil ikan sapu-sapu, nanti mau dikirim ke pabrik, buat pelet atau tepung ikan,” kata Saipul saat ditemui di lokasi, Rabu (2/9/2026).
Baca juga: Sungai Silugonggo di Pati Mengering, Ratusan Nelayan Terpaksa Nganggur
Dapat 1 Ton Ikan Sapu-Sapu
Bersama warga sekampungnya, Saipul membawa armada pikap dan wadah boks khusus untuk mengangkut hasil buruan tersebut agar bisa langsung dibagi rata.
”Kita bagi rata semua. Ini ada 10 orang warga sini semua,” jelasnya.
Dari hasil perburuan di dasar sungai yang asat total tersebut, kelompok Saipul berhasil mengumpulkan hingga 1 ton ikan sapu-sapu. Rencananya, seluruh ikan itu akan langsung dikirim ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana dengan harga jual sebesar Rp2.500 per kilogram.
”Harganya Rp2.500 per kilogram. Dapat 1 ton. Dari sini kita kirim ke TPI Juwana,” imbuhnya.
Baca juga: Nelayan Tayu Pati Menangis, Pasang 1.000 Bubu Cuma Dapat 4 Rajungan
Warga Cari Lauk
Selain mengumpulkan ikan sapu-sapu dalam skala besar untuk pabrik, sebagian warga lainnya juga memanfaatkan kubangan air sisa yang masih tersisa di sudut sungai untuk mencari ikan konsumsi harian. Warga tampak jeli mencari ikan jenis kutuk (gabus) dan betok yang masih bertahan hidup di tengah lumpur, termasuk Ari Susanto.
”Nyari ikan setelah kalinya surut. Ini dapatnya ikan kutuk sama betok, yang masih bertahan di tempat lumpur. Rencana mau buat lauk sendiri,” ujar Ari.
Menurut Ari, kondisi kering total di bendungan tersebut baru dirasakan dalam sepekan terakhir setelah debit airnya terus menyusut sebulan belakangan akibat masifnya penggunaan air untuk mengairi sawah warga yang terancam gagal panen.
Meski mulai tercium bau menyengat dari sebagian bangkai ikan kecil yang mati di bawah terik matahari, warga memastikan aroma busuk tersebut belum sampai mengganggu kenyamanan permukiman di sekitar lokasi.
”Terus ya kalau dekat mengganggu setelah banyak ikan pada mati. Kalau ke permukiman warga enggak sampai,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













