LINIKATA.COM, KUDUS – Pelestarian Batik Kudus kini tidak hanya dipandang sebagai langkah menjaga warisan budaya lokal, tetapi juga menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Empat Pilar MPR RI.
Hal tersebut mengemuka dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar di Gedung Setda Kudus pada Jumat (31/7/2026). Kegiatan ini dihadiri sekitar seratusan peserta yang terdiri dari pelaku usaha batik, para perajin, hingga generasi muda Kudus.
Baca juga: Lestari Moerdijat dan BRIN Dorong Periset Kudus Tembus Jurnal Global
Filosofi Keberagaman Batik Kudus dan Tantangan Regenerasi
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa sosialisasi kali ini sengaja dirancang khusus untuk mengangkat konteks pelestarian Batik Kudus dalam balutan kebangsaan. Menurutnya, motif-motif Batik Kudus menyimpan nilai filosofi keberagaman yang sangat kuat.
”Kalau kita buka kembali, Bung Karno pun sudah menyampaikan bahwa motif-motif batik sejak awal jelas-jelas mengajarkan keberagaman. Ada nilai dan filosofi kebangsaan yang sangat lekat dengan Empat Pilar kita,” ujar Lestari.
Lestari menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan warisan budaya sekaligus kekayaan intelektual masyarakat Kudus ini tidak punah dan terus dilanjutkan oleh generasi muda.
”Meneruskan warisan ini bukan berarti semua harus menjadi pembatik. Ada banyak sekali cara bagi generasi muda untuk berkontribusi menjaga dan melestarikannya,” tambahnya.
Gempuran Tekstil Printing dan Kelangkaan Tenaga Pembatik
Di sisi lain, perajin batik sekaligus pemilik Muria Batik, Yuli Astuti, menyambut positif dukungan dan perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan Batik Kudus. Menurutnya, industri batik tulis dan cap saat ini tengah menghadapi gempuran produk tekstil bermotif batik (batik printing).
Yuli menyebutkan dua tantangan utama yang dihadapi industri Batik Kudus saat ini, yaitu masih banyaknya masyarakat yang belum bisa membedakan antara batik asli (tulis dan cap) dengan tekstil bermotif batik (printing). Hal ini membuat konsumen sering mempermasalahkan perbedaan harga yang signifikan.
Kemudian persaingan mencari tenaga kerja di Kudus cukup ketat karena banyaknya industri besar. Banyak generasi muda tertarik menjadi pengusaha batik, namun sangat sedikit yang berminat menjadi pembatik langsung dari nol.
”Kalau pengusahanya ada tapi tidak didukung SDM pembatiknya, tidak ada yang mengerjakan. Biaya SDM dan upaya mengenalkan corak khas Kudus ke pasar nasional maupun internasional menjadi tantangan besar kami,” ungkap Yuli.
Baca juga: 91 Persen Kekerasan Seksual Terjadi di Sekolah, Lestari Moerdijat: Ini Krisis Moral
Sinergi Nilai Kebangsaan dan Penggerak Ekonomi Daerah
Ia berharap pemaparan materi Empat Pilar Kebangsaan dari Lestari Moerdijat dapat membakar semangat anak muda Kudus untuk tidak hanya bangga memakai batik, tetapi juga terlibat aktif dalam menjaga doa, harapan, dan keberlangsungan ekonomi di balik kain warisan budaya tersebut.
Melalui sinergi antara nilai-nilai kebangsaan dan semangat pelestarian budaya ini, Batik Kudus diharapkan tidak sekadar bertahan di tengah gempuran modernisasi dan industri masa kini. Lebih dari itu, Batik Kudus diharapkan mampu terus bertransformasi menjadi kebanggaan daerah yang hidup, menggerakkan roda ekonomi lokal, serta menjadi simbol identitas dan persatuan bangsa yang senantiasa dicintai oleh generasi penerus. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin














