LINIKATA.COM, KUDUS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Komisi X DPR RI menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat di Hotel Griptha Kudus, Jumat (31/7/2026).
Acara bertajuk “Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Skala Menengah dan Tinggi” ini dihadiri oleh 109 perwakilan civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Kudus dan sekitarnya.
Baca juga: BRIN dan Lestari Moerdijat Tingkatkan Kapasitas Riset Akademisi Kudus
Lestari Moerdijat Ingatkan Integritas dan Etika Publikasi Global
Hadir dalam agenda tersebut, Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lestari Moerdijat (Mbak Rerie). Dalam sambutannya, ia menyoroti pentingnya menjaga integritas ilmiah di tengah tuntutan publikasi global. Menurutnya, publikasi di jurnal internasional kerap kali terjebak pada pemenuhan administratif dan kejar tayang semata.
”Kita tidak bisa menutup mata bahwa memasukkan hasil penelitian ke jurnal internasional adalah keharusan. Namun, yang harus kita pastikan adalah jurnal yang diterbitkan bukan sekadar mengejar volume dan asal masuk. Jangan sampai penelitian manajemen malah terbit di jurnal perikanan hanya demi memenuhi target,” tegas Lestari.
Ia menambahkan, dinamika publikasi ilmiah saat ini telah bergeser menjadi komoditas kompetisi antarbangsa yang diwarnai ketimpangan akses serta tantangan etika baru, seperti penggunaan Artificial Intelligence (AI). Oleh karena itu, Bimtek ini diharapkan menjadi bentuk kehadiran negara untuk mendampingi para akademisi, bukan sekadar menuntut target.
BRIN Bahas Solusi Mahalnya Biaya APC Jurnal Reputasi
Sementara itu, peneliti BRIN selaku narasumber, Anugerah Yudha Asmara, menyebut kegiatan ini sebagai momentum strategis untuk menjembatani aspirasi akademisi lokal langsung kepada pembuat kebijakan nasional tanpa sekat.
Yudha membeberkan salah satu kendala utama yang kerap dihadapi periset daerah maupun nasional, yakni tingginya biaya Article Processing Charge (APC) pada jurnal bereputasi.
”APC menjadi tantangan nyata. Kita memerlukan dukungan skema pembiayaan riset yang berkelanjutan. Namun, kami juga menekankan bahwa jalur publikasi tidak selalu bergantung pada jurnal berbayar (non-APC), atau bahkan output-nya bisa diarahkan ke bentuk non-publikasi yang relevan,” jelas Yudha.
Baca juga: 91 Persen Kekerasan Seksual Terjadi di Sekolah, Lestari Moerdijat: Ini Krisis Moral
UMK Dorong Hilirisasi Riset Berbasis Potensi Lokal
Respon positif turut disampaikan oleh perwakilan peserta, Sugeng Slamet, Wakil Rektor III Universitas Muria Kudus (UMK). Ia menilai kehadiran BRIN sangat krusial dalam mendorong hilirisasi riset berbasis potensi daerah.
”Riset merupakan bagian mendasar dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui forum ini, kita didorong untuk menguatkan potensi local wisdom agar mampu melahirkan produk teknologi dan kebijakan sosial yang berdampak, baik di tingkat nasional terindeks Sinta maupun internasional terindeks Scopus,” ungkap Sugeng.
Melalui sinergi antara BRIN, DPR RI, dan perguruan tinggi daerah ini, diharapkan ekosistem riset di Indonesia tidak hanya unggul secara kuantitas, tetapi juga kuat secara mutu, etika, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. (LK10)
Editor: Ahmad Muhlisin














