LINIKATA.COM, PATI – Bayang-bayang trauma akibat banjir rob masih menghantui Junaidi, warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Bukan hanya kehilangan mata pencarian, kondisi psikisnya bahkan sempat ambruk hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Junaidi menceritakan awal masa-masa kelam yang mengubah total hidupnya. Pada Mei 2025 lalu, tambak ikan nila seluas dua hektare yang dia sewa digulung banjir rob. Ironisnya, salah satu petak tambak yang baru saja ia sewa bahkan belum sempat dikerjakan dan dipanen.
“Garap tambak dua hektare. Yang satu (petak) itu baru tambah sewa, belum sempat merasakan mengerjakan tambak itu malah terdampak,” katanya saat ditemui, Rabu (24/6/2026).
Baca juga:
Terlilit Utang Modal Rp50 Juta Akibat Tambak Tidak Produktif
Saat tambak ikan nila itu tak lagi produktif, Junaidi harus berhadapan dengan pinjaman bank yang belum lunas. Meski menurut dia modalnya cukup kecil ketimbang petambak lain, uang tersebut sangat berarti karena sampai kini cicilannya belum lunas.
“Sampai saat ini juga utang modal tambak masih ada yang belum terbayarkan. Modal awal, ya Rp 50 juta lebih. Mungkin kecil dibandingkan teman-teman yang lain, cuman sesuai dengan kapasitas kemampuan ekonomi kami, termasuk sangat besar,” beber dia.
Sebagai tulang punggung keluarga, hilangnya sumber penghasilan secara mendadak membuat kondisi mentalnya ambruk. Karena tidak kuat memikul beban hidup yang berat itu, Junaidi sampai stres berat hingga harus dirawat di rumah sakit.
“Sebagai tulang punggung keluarga sempat mengalami tekanan secara psikis, bahkan sempat mengalami stres pada waktu itu, hingga pernah dirawat di Rumah Sakit. Beban mental, pikiran, setelah tanggung jawab itu juga cukup besar,” ungkap Junaidi.
Baca juga:
Bertahan Hidup Menjadi Buruh Serabutan dan Ngojek Ikan
Kini, setelah satu tahun berlalu, Junaidi hanya bisa menggantungkan hidup dari para pemilik tambak yang tidak terdampak banjir rob. Dia rela bekerja serabutan mengerjakan apa saja demi menghasilkan uang di kawasan pesisir Kabupaten Pati.
“Kerja cenderung serabutan. Kalau terkadang ada teman-teman, saudara atau kerabat dekat yang panen itu saya dimintai, diajak untuk ngojek ikan itu,” katanya.
Makanya, Junaidi hanya bisa berharap tanggul laut yang jebol bisa segera diperbaiki agar tambak ikannya bisa kembali produktif. Selain itu, dia juga berharap pemerintah membuka lapangan pekerjaan bagi warga terdampak banjir rob.
“Harapan ke depannya untuk saya, generasi muda, termasuk bagian dari tulang punggung keluarga, alangkah baiknya itu dibuatkan lapangan pekerjaan untuk kami bagi bagian dari penopang, perekonomian keluarga,” tuntasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















