LINIKATA.COM, PATI – Petani Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Kamelan, berhasil memanen 10 ton gabah dari satu hektare lahan setelah memakai pupuk eceng gondok.
Hasil itu diketahui saat Kamelan melakukan ubinan, Minggu (6/7/2025). Dari uji coba didapati hasil 6,8 kilogram sehingga diperkirakan hasilnya mencapai 10,880 ton per hektare
“Untuk penghitungan pasti kami lakukan saat dikeringkan. Namun melihat hasil ubinan lebih dari 10 ton,” ucap Kamelan.
Baca juga: Krompyongan: Cara Unik Petani Desa Wuwur Pati Basmi Hama Tikus
Dia menyebut pupuk eceng gondok utu merupakan hasil pendampingan komunitas Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampi Sawan) dan Serikat Petani Pati. Menurutnya, Jampi Sawan banyak memberikan pendampingan dalam sawah percontohan yang digarap di Desa Jambean Kidul. Selain itu, Serikat Petani Pati juga banyak membantu.
“Di antaranya kami memakai pupuk produksi dari Jampi Sawan memang ada penghematan di biaya produksi. Pupuk dari eceng gondok itu meningkatkan hasil panen selain itu menyuburkan tanah dan pupuknya lebih ramah lingkungan dari pada kimia,” imbuhnya.
Dia menyebut, dari hasil demplot diketahui produksi padi miliknya bisa naik di atas 15 persen bila dibandingkan pupuk kimia murni.
“Dari biaya operasionalnya sendiri hemat antara 10 hingga 20 persen dibandingkan pakai pupuk kimia,” ujarnya.
Formulator Divisi Pupuk Komunitas Jampi Sawan, Ali Mustofa, mengatakan, sawah yang menjadi percontohan itu diterapkan asam humat atau sejenis pupuk untuk menutrisi. Pupuk itu memproduksi unsur harapan sekaligus mengikat unsur hara yang ada di dalam tanah agar tidak larut terbawa air.
“Bahan dasarnya dari eceng gondok yang kami ambil dari sungai Juwana. Di mana eceng gondok itu saat ini cukup mengganggu nelayan. Diproses jadi asam humat padat dan cair,” imbuhnya.
Baca juga: Tikus Jadi Mimpi Buruk Petani Pati: Disetrum, Diobat, Diplastik Masih Ada
Selain membuat subur, Ali menyebut pupuk itu membuat nutrisi melimpah lantaran ada mikroba baik, sehingga dapat meningkatkan produktivitas padi yang sedang ditanam.
“Biaya untuk tanaman juga rendah. Karena tahan dari penyakit jadi tak perlu banyak obat,” imbuhnya.
Ali menyebut telah membuat formalisasi dalam menanam padi, yakni saat musim tanam dia akan memakai micro bakteri.
“Jadi jerami yang ada di sawah dapat diurai dengan cepat sehingga jadi pupuk juga. Kemudian diberi asam humat cair untuk memproduksi unsur hara berlimpah. Langkah ketiga diberi asam amino yang juga produksi Jampi Sawan untuk ketahanan penyakit membuat batangnya kuat,” imbuhnya. (LK2)
Editor: Ahmad Muhlisin















