LINIKATA.COM, PATI – Kebocoran bendung karet yang berlokasi di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, akhirnya selesai diperbaiki oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Tuntasnya pengerjaan sarana pengairan ini membuat para petani di sepanjang aliran sungai dapat bernapas lega.
Kerusakan pada fasilitas penahan air tersebut sebelumnya sempat memicu kecemasan mendalam bagi para pelaku sektor pertanian di Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana. Pasalnya, gangguan fungsi sarana ini berpotensi mengancam ketersediaan air irigasi di tengah musim kemarau.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati, Aldonny Nurdiansyah, mengonfirmasi bahwa seluruh penanganan teknis di lapangan telah rampung sejak Kamis (30/7/2026).
”Bocor hari Minggu 19 Juli 2026. Perbaikan mulai 24 juli selesai per Kamis 30 Juli,” ujar Aldonny saat dikonfirmasi mengenai perkembangan fasilitas pengairan tersebut, Jumat (31/7/2026).
Baca juga: Bendung Karet Bocor Lagi, Ribuan Hektare Sawah di Pati Terancam Kekeringan
Cegah Intrusi Air Laut
Dengan beroperasinya kembali sarana penampung air tersebut, instansi terkait berharap fungsi pembendung dapat berjalan optimal. Salah satu peran krusial fasilitas ini yakni mencegah masuknya air laut atau intrusi air asin ke alur sungai.
Penahanan air asin sangat penting untuk mengamankan pertanaman padi sepanjang Musim Tanam (MT) III yang berlangsung sejak Juni hingga September mendatang.
”Dapat mengairi pertanaman padi di sepanjang aliran sungai Juwana pada Musim Tanam III (tanam juni-september) sehingga tidak mengalami kekeringan,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa perlindungan dari kadar garam air laut sangat menentukan keberhasilan panen para penggarap lahan.
”Menghalangi intrusi air laut sehingga tidak kena ke tanaman yang dapat berdampak kegagalan panen karena asin,” dia menambahkan.
Baca juga: Imbas Bendung Karet Sungai Juwana, Nelayan Disebut Susah Melaut sampai Sedimentasi Parah
Ancaman Kerugian Ribuan Hektare
Sebelum pengerjaan perbaikan diselesaikan, kondisi kerusakan tanggul sintetis ini sempat dikeluhkan oleh Ketua Serikat Petani Pati (SPP), Kamelan. Pihaknya mengkhawatirkan imbas kebocoran yang berlarut-larut terhadap pasokan air bercocok tanam.
Menurutnya, ketersediaan pasokan dari saluran sungai menjadi satu-satunya tumpuan utama saat intensitas curah hujan berada pada titik terendah.
”Sepanjang Sungai Juwana ini ada ribuan hektar padi yang perlu pengairan. Padahal ini musim kemarau, hujan jelas sulit untuk didapat. Sehingga satu-satunya pengairan diambilkan dari Sungai Juwana,” ujar Kamelan. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














