LINIKATA.COM, PATI – Kabar kurang sedap menimpa para petani kopi di lereng Pegunungan Muria, khususnya di Kecamatan Gembong Kabupaten Pati. Menjelang tibanya musim panen raya, harga jual biji kopi di tingkat pasaran justru merosot tajam alias melorot jika dibandingkan dengan periode tahun lalu.
Saat ini, harga biji kopi kering di Bumi Mina Tani terpuruk di kisaran Rp53 ribu hingga Rp55 ribu saja per kilogram. Padahal pada musim panen 2025 kemarin, harga kopi sempat meroket hingga tembus Rp65 ribu bahkan menyentuh angka Rp70 ribu per kilogram di sejumlah tempat.
Kondisi merosotnya harga di tengah masa panen yang mulai berjalan tentu memicu kekhawatiran di kalangan petani. Salah satunya dirasakan oleh Noor Kholis, petani kopi asal Desa Klakahkasihan, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati.
”Panen kopi ini untuk kita panen yang merah. Yang masih hijau dibiarkan dulu. Merah kita ambil. Hasilnya lumayan. Dibandingkan dengan hasil panen lalu ini lebih banyak. Mungkin cuaca berpengaruh dan faktor hama berkurang,” ungkap Noor.
Meskipun Noor mengakui hasil produktivitas buah kopi tahun ini cenderung lebih melimpah berkat faktor cuaca yang mendukung, grafik harga yang melorot membuat keuntungan petani menipis jelang puncak panen raya dua pekan ke depan.
”Harga di pasaran berkisar Rp53 ribu sampai Rp55 ribu per kg. Itu biji kering. Dua pekan lagi kemungkinan panen raya,” kata Noor.
Baca juga: Hasil Panen di Pati Turun Akibat Cuaca, Terobati Harga Gabah Naik
Petani Terjepit Lonjakan Harga Pupuk dan Sembako
Anjloknya harga jual kopi dirasa kian memberatkan karena tidak sebanding dengan biaya operasional perawatan kebun yang harus dikeluarkan oleh para petani.
Noor berharap harga kopi bisa kembali terkerek naik dan membaik saat seluruh wilayah memasuki puncak panen raya nanti. Terlebih, ongkos produksi melonjak akibat mahalnya pupuk di pasaran.
”Semoga nanti bisa lebih,” tandas Noor.
Harapan senada juga diungkapkan oleh Tuti, petani kopi dari Kecamatan Gunungwungkal yang daerahnya sudah mulai mencuri start panen sejak dua pekan lalu. Ia sangat berharap ada keajaiban harga naik demi menutup kebutuhan hidup sehari-hari yang kian melambung.
”Sebenarnya kalau panen di tempat kami sudah panen lebih dulu. Sekitar dua pekan lalu sudah panen. Ya semoga ya naik (harga kopi). Apalagi kebutuhan sembako naik ya,” pungkas Tuti. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














