LINIKATA.COM, KUDUS – Tanggal 1 Juni selalu menjadi momentum sakral bagi bangsa Indonesia untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Di tengah ruang refleksi untuk menakar sejauh mana dasar negara dihayati oleh generasi muda, sebuah potret kontras justru terekam di salah satu sekolah menengah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (1/6/2026).
Di satu sudut sekolah, sejumlah pelajar kedapatan masih gugup dan kesulitan menghafal kelima sila. Sementara di sudut lain, sebagian siswa justru melafalkannya di luar kepala sekaligus mampu menyelami maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, Pancasila bukanlah hal asing di lingkungan pendidikan. Setiap hari Senin, kelima dasar negara tersebut selalu digemakan dengan lantang oleh seluruh peserta upacara bendera.
Baca juga: Dana Desa di Kudus Cair, Fokus Kemiskinan Ekstrem
Namun, kedekatan verbal tersebut rupanya belum menjamin kelancaran. Saat dilakukan uji petik (tanya acak) secara mendadak, beberapa pelajar tampak salah tingkah. Beberapa di antaranya bahkan tertukar saat melafalkan urutan sila.
Silvia Ferosida, salah seorang siswi, sempat terbata-bata dan keliru menyebutkan urutan dasar negara tersebut.
“Sila kelima yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan… Eh, tuh kan, maaf Pak, ulang ya. Sila kelima adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Silvia sembari tersenyum malu.
Kendati ada yang berwajah merah karena lupa, tidak sedikit pula pelajar yang dengan tangkas melafalkan Pancasila tanpa ragu. Pasangan pelajar Neha Putri Wiana dan Reva Virge, misalnya, dengan kompak dan lancar melafalkan kelima sila secara bersamaan.
Bukan Sekadar Hafalan, Melainkan Kompas Moral
Bagi kalangan pendidik, menghafal Pancasila barulah langkah paling awal. Tantangan sesungguhnya yang dihadapi Generasi Z dan Alfa saat ini adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata di tengah derasnya arus zaman dan teknologi.
Kesadaran inilah yang tercermin dari Yoga Saputra, seorang pelajar yang memandang Pancasila dengan cara yang lebih mendalam. Setelah melafalkan sila kedua dan keempat dengan amat lancar, Yoga membagikan perspektifnya.
“Pancasila itu sebagai ideologi negara bisa menjadi pandangan hidup bagi seseorang. Juga bisa mencerminkan sikap-sikap yang bisa tumbuh dari diri kita sendiri,” tutur Yoga.
Baca juga: Jateng Genjot Investasi Padat Karya dan Pariwisata, Kudus Andalkan Sektor Non-Rokok
Sinergi Sekolah dan Keluarga Jadi Kunci
Peringatan Hari Lahir Pancasila sejatinya adalah pengingat abadi untuk merawat toleransi dan kebersamaan sejak dini. Di sinilah peran kolaboratif antara sekolah dan keluarga menjadi kunci krusial.
Tujuannya hanya satu, agar Pancasila tidak sekadar berakhir sebagai teks hafalan yang kaku di lisan, melainkan bertransformasi menjadi kompas moral yang hidup di dalam nadi generasi penerus bangsa.
Editor: Ahmad Muhlisin















