LINIKATA.COM, KUDUS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar Rembuk Pembangunan Provinsi 2026 yang turut dihadiri kepala daerah di wilayah pengembangan Jekuti dan Banglor (Jepara, Kudus, Pati, Rembang, dan Blora), di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (26/5/2026).
Talkshow ini guna mempertajam hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang telah dilakukan sebelumnya. Di sisi lain, untuk memastikan seluruh aspirasi wilayah yang belum terwadahi, dapat masuk dalam rencana strategis pembangunan nasional. Khususnya target pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa rembuk wilayah ini menjadi wadah krusial untuk memetakan fokus pembangunan jangka menengah. Jika tahun 2026 pemerintah berfokus penuh pada swasembada pangan, maka pada tahun 2027 fokus akan diperluas ke sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Saat ini pertumbuhan ekonomi kita sudah berada di angka 5,89 persen menuju target 8 persen,” kata Luthfi.
Baca juga: Bupati Kudus Pastikan Stok dan Harga Bahan Pokok Terkendali Jelang Iduladha
Adapun sektor yang paling menunjang capaian ini, lanjutnya, adalah investasi, terutama industri padat karya seperti alas kaki, pakaian, tekstil, dan garmen. Industri ini tidak hanya mendongkrak PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) tetapi juga menyerap 410 ribu tenaga kerja di Jawa Tengah.
Strategi Perluasan Investasi Non-Rokok di Kudus
Sementara Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menyambut baik pelaksanaan rembuk wilayah ini. Dalam laporannya, Sam’ani memaparkan kondisi makro ekonomi Kabupaten Kudus yang unik. Meski pertumbuhan ekonomi Kudus terlihat melambat di angka 2 hingga 2,5 persen, ia menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena basis angka PDRB Kudus sudah sangat tinggi, yakni mencapai Rp132,3 triliun dengan PDRB per kapita sebesar Rp148,3 juta—tertinggi di antara daerah sekitar.

Ekonomi Kudus saat ini ditopang oleh sektor industri sebesar 76 persen. Menyadari besarnya kontribusi Kudus yang menyumbang cukai rokok hingga Rp50 triliun ke pemerintah pusat, Sam’ani menegaskan pentingnya diversifikasi atau perluasan investasi di luar sektor rokok demi keberlanjutan daerah.
“Kami terus menggenjot investasi non-rokok. Saat ini, PT Djarum sudah melebarkan sayap ke pabrik roti, Sukun masuk ke industri garmen, dan Polytron sudah memproduksi mobil serta motor listrik. Ini adalah kebanggaan Kudus untuk menjadi daerah yang maju dan sejahtera,” urai Sam’ani.
“Selain industri modern, Kudus juga mempromosikan produk lokal unggulan seperti Air Cleo, Kopi Cafino, kopi Muria, dan Jenang Kudus,” imbuhnya.
Baca juga: Gedung Sehat RSUD Kudus Mulai Dibangun, Dikucuri Dana BLUD Rp91 M
Dorong Pengembangan Wisata Religi Eks-Keresidenan Pati
Menyelaraskan dengan arahan Gubernur terkait sektor pariwisata 2027, Sam’ani meminta perhatian provinsi agar tidak hanya fokus pada wisata Jawa Tengah bagian selatan (seperti Borobudur). Eks-Keresidenan Pati memiliki potensi wisata religi dan budaya yang luar biasa besar.
“Di Kudus ada dua Wali Songo, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Kami juga memiliki Museum Kretek, Museum Jenang, dan situs purbakala Patiayam. Sektor ekonomi syariah dan pariwisata ini akan menjadi tulang punggung baru pertumbuhan ekonomi daerah,” tuturnya.
Untuk mendukung target pariwisata tersebut, Kabupaten Kudus memproyeksikan perbaikan infrastruktur jalan, jembatan, dan lampu penerangan jalan sebagai prioritas utama. Pemerintah Kabupaten Kudus juga menargetkan penurunan angka kemiskinan menjadi 5,67 persen, penurunan angka pengangguran terbuka ke level 2,73 persen, serta peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hingga 79,04 persen.
Di akhir penyampaiannya, Sam’ani mengajak seluruh elemen Forkopimda, TNI, dan Polri untuk memperkuat kolaborasi dan mitigasi bencana di wilayah Jawa Tengah, guna mendukung program strategis pusat seperti pengecekan kesehatan gratis, penanganan stunting, dan pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat. (Adv)
Editor: Ahmad Muhlisin














