LINIKATA.COM, JAKARTA – Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni dinilai bukan sekadar seremoni tahunan belaka. Peringatan bersejarah ini harus menjadi pengingat kolektif bahwa nilai-nilai luhur Pancasila wajib hidup dan diamalkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari guna menjawab berbagai tantangan kompleks yang tengah dihadapi bangsa.
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menegaskan bahwa di tengah ancaman gejolak ekonomi global yang kian nyata dan potensi dampaknya terhadap stabilitas persatuan di dalam negeri, urgensi untuk membumikan Pancasila dalam keseharian sudah bergeser dari pilihan menjadi sebuah keharusan yang mutlak.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini sangat berlapis dan tidak akan bisa diselesaikan apabila pemerintah maupun masyarakat hanya menggunakan pendekatan yang bersifat parsial.
“Pancasila bukan hanya fondasi negara. Ia adalah ruh yang harus kita aplikasikan dalam setiap kebijakan ekonomi, dalam setiap interaksi sosial, dan dalam setiap upaya menjaga persatuan. Saatnya kita bergerak dari seremoni ke aksi nyata,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Lestari Moerdijat: Literasi AI bagi Penyandang Disabilitas Merupakan Amanat Konstitusi
Ujian Ketahanan Nasional di Tengah Perlambatan Global
Situasi ekonomi global saat ini diakui sedang menguji ketahanan nasional bangsa. Merujuk data terbaru dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 diproyeksikan hanya menyentuh angka 2,6 persen. Dalam kondisi tersebut, negara-negara berkembang diprediksi akan menanggung beban terberat akibat lonjakan biaya energi, pangan, serta tekanan nilai tukar mata uang.
Anggota Komisi X DPR RI itu mengingatkan bahwa data dari berbagai lembaga internasional tersebut menunjukkan adanya potensi perlambatan perekonomian yang masif. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dinilai berpotensi memicu berbagai ancaman stabilitas di tingkat nasional.
Oleh karena itu, guncangan dari faktor eksternal maupun internal ini mengharuskan bangsa Indonesia untuk tidak berhenti mengamalkan Pancasila sebatas retorika atau jargon politik semata. Aksi konkret seperti gerakan gotong-royong di sejumlah sektor strategis dan penguatan program perlindungan sosial mendesak untuk segera direalisasikan.
Baca juga: Lestari Moerdijat: Modal AI, UMKM Lokal Siap Gebrak Panggung Digital Dunia
Perkuat Gotong Royong dan Literasi Digital
Sinergi dan kerja sama yang erat antara pihak pemerintah, sektor swasta, dan elemen masyarakat harus terus diperkuat. Langkah ini penting untuk melindungi kelompok masyarakat yang daya belinya mulai terganggu, sekaligus memperkokoh jaring pengaman sosial bagi warga miskin.
“Tanpa gotong royong yang kuat antar pemangku kepentingan, tanpa keadilan sosial yang nyata, kelompok rentan akan terdampak paling parah. Sila kelima harus menjadi kompas kebijakan kita,” tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut.
Di sisi lain, tantangan di era modern juga menyasar ruang digital. Penguatan literasi digital masyarakat dinilai harus dilakukan secara masif sebagai bagian dari upaya membangun perisai kokoh dari ancaman perpecahan dan disintegrasi bangsa.
Tanpa kecakapan literasi digital yang memadai, anak bangsa dikhawatirkan akan berpotensi terus terjebak dalam pusaran polarisasi serta penyebaran berita bohong (hoaks). Menghadapi hal ini, negara dituntut harus hadir dengan program pendidikan karakter berbasis Pancasila yang adaptif dan relevan terhadap tantangan zaman.
Editor: Ahmad Muhlisin















