LINIKATA.COM, PATI – Sabtu Kliwon pada bulan Apit atau Dzulqa’dah dalam penanggalan Jawa menjadi hari yang sangat sakral bagi warga Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Pada momen tersebut, masyarakat setempat menggelar tradisi sedekah bumi yang telah dijaga turun-temurun sejak abad ke-18.
Inti dari tradisi ini terletak pada pementasan Wayang Topeng, sebuah kesenian sakral yang hanya dipentaskan satu kali dalam setahun. Kesenian yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan pada tahun 2021 ini bukan sekadar hiburan, melainkan ritual tolak bala guna menghindari wabah sekaligus simbol syukur atas hasil bumi yang melimpah.
Keunikan Wayang Topeng dan Atribut Ratusan Tahun
Meskipun sekilas menyerupai wayang orang, Wayang Topeng memiliki karakteristik unik di mana kendali cerita sepenuhnya dipandu oleh seorang dalang. Pementasan ini melibatkan 17 pemain yang mayoritas adalah laki-laki dengan membawakan lakon Among Tani yang berkisah tentang dinamika kehidupan pertanian.
Baca juga: Tak Sekadar Ngaji, Santri di Pati Diajari Jadi Entrepreneur Olahan Lele
Hal yang paling istimewa dari kesenian di Desa Soneyan ini adalah penggunaan 35 topeng asli peninggalan nenek moyang yang telah berumur ratusan tahun. Sebelum mengenakan atribut bersejarah tersebut, para pemain diwajibkan menjalani ritual penyucian diri sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sakral pementasan.
Aturan Ketat: Pemain Harus Warga Asli Kedung Panjang
Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto, menjelaskan bahwa regenerasi pemain dilakukan secara ketat di lingkungan internal desa. Aturan tidak tertulis yang masih dijaga hingga kini adalah seluruh pemain harus merupakan warga asli Dukuh Kedung Panjang.
“Pemainnya 100 persen selalu warga Kedung Panjang. Tidak bisa orang luar,” ungkap Margi Siswanto saat ditemui di lokasi kegiatan, Sabtu (18/4/2026).
Pihak desa terus berkomitmen menjaga kelestarian budaya ini dengan melibatkan generasi muda. Saat ini, beberapa warga berusia belasan tahun sudah menjadi pemain utama. Bahkan, bagi anak-anak usia sekolah, disediakan pementasan khusus pada malam hari agar mereka terbiasa dengan nilai-nilai seni tersebut sejak dini.
Dedikasi Pemain dan Kelestarian Budaya Lokal
Salah satu pemain senior, Suparji, membagikan pengalamannya yang telah aktif naik panggung sejak tahun 1987. Mengingat peran yang dibawakan sudah sangat mendarah daging, ia mengaku tidak memerlukan persiapan khusus selain proses geladi resik singkat sebelum acara dimulai.
Baca juga: Guru Sosiologi Pati Bedah AI: Cukup untuk Olah Data, Jangan Jadi Segalanya!
“Nggak ada latihan biasanya. Cuma ada sedikit saja gladi resik,” jelas Suparji mengenai persiapannya setiap tahun.
Keahlian para pemain lokal di Margoyoso ini terbilang luar biasa. Suparji menambahkan bahwa satu orang pemain sering kali dituntut mampu memerankan hingga tiga tokoh berbeda jika ada rekan yang berhalangan hadir. Dedikasi kolektif inilah yang membuat Wayang Topeng Kedung Panjang tetap eksis dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Pati. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














