LINIKATA.COM, PATI – Desa Kajen di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, dikenal luas sebagai salah satu pusat pesantren terbesar di Indonesia. Di desa ini, puluhan pondok pesantren berdiri kokoh dan menjadi tujuan puluhan ribuan santri dari berbagai daerah untuk menimba ilmu agama.
Sejarah besar ini bermula dari keberadaan Masjid Jami’ Kajen yang didirikan oleh ulama kharismatik, Syekh Ahmad Mutamakkin. Masjid bersejarah ini didirikan pada 1695 Masehi atau 1107 Hijriah.
Meski sudah tiga kali mengalami pemugaran, bangunan ini tetap mempertahankan arsitektur Jawa Kuno dengan atap tumpang tiga yang melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan. Dinding serta tiang penyangganya pun masih menggunakan kayu jati asli yang menambah kesan sakral dan antik bagi siapa saja yang berkunjung.
Baca juga: Tradisi Tabuh Beduk Dandangan di Menara Kudus Penanda Awal Ramadan
Di dalam masjid, terdapat peninggalan bersejarah berupa papan bersurat dan mimbar khotbah yang memiliki ukiran satwa penuh makna.
Koordinator Islamic Center Kajen, Mohammad Azwar Anas, menjelaskan bahwa ukiran naga, gajah, dan burung kuntul tersebut merupakan simbol filosofis bagi para pengikut Mbah Mutamakkin. Tiga hewan itu punya makna filosofis, yaitu, santri Mbah Mutamakkin atau anak turunnya harus memiliki pemahaman bahwa untuk menjadi tokoh harus memiliki sifat ular naga yaitu hewan yang mengedepankan tirakat. Mampu menahan hawa nafsu, lapar.
“Untuk gajah berlambang diri kita memiliki kekuatan yang sangat besar, yang mana mampu melewati rintangan yang ada pada diri kita. Santri Mbah Mutamakkin juga memiliki seperti burung kuntul yang mematuk bulan yang memiliki cita-cita tinggi dan bisa beradaptasi di berbagai medan,” tutur Anas.
Pusat Pemberdayaan dan Perlawanan Tanpa Senjata
Mbah Mutamakkin yang memiliki nama asli Sumohadiwijaya menggunakan masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Pada masa kolonial, masjid menjadi pusat diskusi untuk membantu masyarakat yang terbebani pajak berat dari Belanda dan Kerajaan Kartasura. Mbah Mutamakkin memilih jalan perlawanan intelektual dengan cara membangun kemandirian berpikir bagi rakyatnya.
Baca juga: Larang Karaoke Buka saat Ramadan, Plt Bupati Pati: Supaya Masyarakat Lebih Khidmat
“Tidak hanya sekedar kegiatan rutin ngaji, tapi membahas dinamika yang ada di masyarakat. Jadi masyarakat tempat berkumpulnya adalah masjid. Nanti ditindaklanjuti dengan kajian atau halaqoh,” jelas Anas.
“Mbah Mutamakkin perlawanannya tidak konfontrasi kepada Belanda atau Kartasura. Tapi membangun kesadaran masing-masing dengan cara berdikari, membangun kesadaaran berpikir dan seterusnya. Jadi masyarakat diharapkan mandiri,” ucapnya lagi.
Tuduhan Hoaks dan Kebebasan Kajen
Kecerdasan Mbah Mutamakkin sempat memicu kekhawatiran pihak kerajaan hingga muncul berbagai fitnah untuk menyudutkan beliau. Salah satu isu yang disebar adalah tuduhan bahwa beliau merupakan ulama nyentrik yang memelihara anjing. Hal ini membawa Mbah Mutamakkin ke meja persidangan kerajaan dengan ancaman hukuman berat.
“Disebar berita hoak bahwa Mbah Mutamakkin wali yang nyentrik. Seperti di masjid ada ukiran hewan dan dikisah Mbah Mutamakkin memelihara anjing. Lalu dikasuskan pemerintahan pada saat itu untuk di sidang. Kasus seperti ini biasanya hukuman dibakar atau dipenggal sepertihalnya Syekh Siti Jenar,” kata Anas.
Namun, saat disidang, penjelasan Mbah Mutamakkin justru membuat Raja Kartasura terkesima. Beliau akhirnya dibebaskan dari segala dakwaan dan Desa Kajen diberikan status “Tanah Perdikan” atau wilayah bebas pajak.
“Terus Mbah Mutamakkin menceritakan ajarannya. Ketika itu sang raja malah bilang ‘untung saya bertanya seperti itu. Terimakasih telah memberikan pengetahuan sepeti itu. Pengertahuan dari mbah-mbahku. Kalau saya tidak belajar dengan panjenengan, mungkin saya akan mati kafir’ dan Mbah Mutamakkin dibebaskan dari seluruh dakwaan,” imbuh Anas.
Baca juga: 25 Kelompok Thong-Thong Lek Bakal Meriahkan Tradisi Ramadan di Rembang
Keberhasilan pemberdayaan ini menjadi cikal bakal menjamurnya pesantren di Kajen hingga saat ini. Tradisi keilmuan yang diwariskan terus berkembang pesat hingga melahirkan sekitar 90 pondok pesantren dengan populasi santri mencapai 10.000 orang.
“Pemberdayaan itu terus dilalukan sampai muncul banyak pondok pesantren yang mana pondok pesantren dulu adalah titik kecil pergerakan santri Mbah Mutamakkin dari dzuriyyah beliau memberikan pengajaran kepada masyarakat sekitar. Tapi ada orang luar daerah yang ikut mengaji. Ngajinya malam terus pulang angon, berdagang lagi, waktunya ngaji berangkat lagi. Kemudian dirasa lebih efektif berangakat disitu akhirnya membangun pondokan secara mandiri,” tutupnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














