LINIKATA.COM, KUDUS – Ratusan santri meramaikan Napak Tilas Laku KHR Asnawi, dalam rangka memperingati Haul ke-68 KHR Asnawi. Kegiatan bertema “Suluh Peradaban: Mulat Ngelmu dan Laku” itu, untuk mengenang perjalanan batin dan kebudayaan untuk meneladani jejak perjuangan salah satu tokoh penyebar agama islam di Kudus itu.
Diketahui, KHR Asnawi merupakan salah ulama besar di Kudus, yang memadukan keluasan ‘Ngelmu’ dengan kesungguhan tindakan. Salah satu laku yang paling menggetarkan adalah perjalanan setiap Jumat menuju Masjid Sunan Muria yang berjarak dari kediamannya sekitar 15 kilometer.
Napak tilas ini dihadirkan kembali agar generasi hari ini dapat merasakan denyut kesungguhan dan ketulusan yang dahulu menggerakkan langkah-langkah beliau.
Baca juga: Satpol PP Kudus Amankan Puluhan Botol Miras dan Alat Karaoke
Kegiatan Napak Tilas ini bukan karnaval, bukan kampanye, dan bukan pula kegiatan hura-hura.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris mengatakan, Napak Tilas Laku KHR Asnawi merupakan rangkaian yang memberi semangat untuk anak muda, bahwa KHR Asnawi ini punya sejarah yang patut diikuti. Sehingga memberikan ruang kepada anak-anak muda bisa mempelajari laku, mempelajari apa yang menjadi ajaran-ajarannya.
‘’Semoga acara ini memberikan spirit, semangat untuk anak muda semuanya. Serta memberikan destinasi kepada Kabupaten Kudus, bahwa laku ini juga menjadi kegiatan-kegiatan yang diagendakan setiap tahun dari Dukuh Bendan sampai Colo,’’ ujar Sam’ani.
Cicit KHR Asnawi, Khafid Asnawi menyebut pelaksanaan Napak Tilas Laku KHR Asnawi ini, merupakan perjalanan dari Pondok Bendan (Raudlatuth Thalibin, Kerjasan, Kudus) menuju kompleks makam Sunan Muria, Colo, Kudus. Tujuannya, untuk memberikan semangat para santi dalam melanjutkan perjuangan KHR Asnawi menyebarkan ilmu.
‘’Laku Mbah Asnawi ini, menunjukkan bahwa (saat itu) menyebarkan ilmu itu begitu berat. Tidak gampang seperti saat ini,’’ ujarnya.
Baca juga: 30.264 Pekerja Rentan Dilindungi Jaminan Ketenagakerjaan oleh Pemkab Kudus
Selain itu, Laku KHR Asnawi ini juga sebagai upaya memberikan pengetahuan kepada para santri, bahwa proses penyebaran ilmu memang dibutuhkan keteladanan. Misalnya para santri semangat untuk menyebarkan ilmu di mana pun mereka berada. Apa pun atau bagaimanapun medan yang mereka hadapi, itu mereka harus siap.
‘’Waktu itu Mbah Asnawi hanya penyebaran ilmunya di masjid Muria mengajar masyarakat,’’ tutupnya. (LK9)
Editor: Ahmad Muhlisin















