LINIKATA.COM, PATI – Sejak pagi buta, tangan renta Pramono harus bekerja dua kali lipat lebih berat. Di tengah kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Pati, petambak asal Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, ini terpaksa membawa ember kecil untuk menimba air laut secara manual dari saluran irigasi dekat lahannya.
Bagi Pramono, kemarau panjang tahun ini terasa paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasokan air laut tidak lagi bisa mengalir naik ke petak tambak akibat air pasang yang terlalu kecil.
“Sulit sekali ya (dapat air laut). Dibanding kemarau yang lalu, ini paling parah,” beber Pramono, Senin (21/9/2026).
Baca juga: Dibalik Program Swasembada Garam, Petani Demak Keluhkan Harga Jual Anjlok
Kondisi ini praktis membuat proses kristalisasi garam lumpuh di sebagian besar wilayah. Padahal, asa keluarga bergantung dari hasil petak tambak tersebut.
“Tidak bisa produksi. Garam itu kan produksi air dari laut. Ini air laut gak bisa naik,” keluhnya.
Ia pun mengenang dinamika tahun lalu yang berbeda karakter; saat itu harga garam bagus namun terkendala hujan berlebih. Ironisnya, tahun ini harga di tingkat petambak terpantau stabil di kisaran Rp780–Rp800 per kilogram, tetapi asa itu terbentur ketiadaan air.
“Tahun lalu harganya bagus, tapi hujannya banyak. Kalau ini harganya stabil, tapi airnya nggak ada,” pungkas Pramono dengan nada pasrah sambil terus mengais sisa air laut ke petak tambaknya.
Baca juga: Panen Melimpah Tapi Harga Garam di Pati Anjlok, Petambak Cemas Terulang Rp375 Sekilo
Dua Pekan Sulit Produksi
Fenomena morat-maritnya sektor petambakan ini dibenarkan oleh Kepala Desa Ketitangwetan, Ali Muntaha. Menurutnya, minimnya pasokan air laut akibat pasang yang sangat kecil membuat sebagian besar warga pesisir tak berdaya.
“Pada musim kemarau tahun ini petani tambak sangat mengeluh sekali karena air pasang lautnya sangat kecil dan berdampak pada petani garam sehingga airnya tidak sampai lokasi tambak. Produksinya hampir dua minggu ini berhenti karena kondisi air yang sangat minim,” ungkap Ali.
Padahal, nilai jual komoditas garam di tingkat produsen sedang berada pada tren yang cukup menjanjikan. Namun, potensi cuan tersebut terhambat total oleh faktor alam.
“Tahun ini harga garam berkisar Rp780 sampai Rp800. Sementara harga bagus. Tapi tahun ini hasil garam kurang seperti tahun-tahun kemarin. Mungkin karena enggak ada curah hujan, terus hasil garamnya itu enggak bisa maksimal,” pungkas Ali. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














