LINIKATA.COM, PATI – Memasuki puncak musim kemarau, para petambak garam di Kabupaten Pati justru harus mengurut dada. Meski produksi garam melimpah berkat cuaca terik, harga jual di tingkat petambak justru anjlok drastis hingga menyentuh angka Rp700 per kilogram.
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan oleh Bukhori, petambak garam asal Desa Tluwuk, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati. Ia membeberkan bahwa dalam kurun waktu dua pekan terakhir, harga garam terus mengalami penurunan dari semula Rp1.000 per kilogram menjadi Rp700 per kilogram.
“Harga garam sekarang itu turun, kemarin 15 hari Rp1.000 dan sekarang sudah turun menjadi Rp700 rupiah per kilogram,” ujar Bukhori, Senin (24/8/2026).
Baca juga: Sungai Juwana Kering, Petani Karangrowo Pati Terancam Gagal Panen
Produksi Melimpah dan Ketiadaan Koperasi Penampung
Bukhori menjelaskan, merosotnya harga garam di tingkat petambak dipicu oleh pasokan hasil panen yang kian melimpah seiring cuaca kemarau yang sangat mendukung. Namun, kondisi ini diperparah oleh ketiadaan sistem penyangga harga di tingkat daerah.
Menurutnya, Kabupaten Pati hingga kini belum memiliki wadah koperasi khusus yang mampu menyerap dan menyimpan cadangan garam saat produksi melimpah agar harga di pasaran tetap stabil.
“Disamping memang produksi garam semakin bertambah, kendalanya di sini itu saya kira di wilayah Pati belum ada koperasi yang menangani yang menyimpan supaya harga garam bisa stabil,” terangnya.
Baca juga: Kemarau Lebih Kering, Petambak Garam di 4 Kecamatan di Pati Mulai Panen
Bayang-Bayang Anjlok Hingga Rp375 per Kilogram
Bukhori mencemaskan harga garam masih berpotensi merosot lebih dalam jika cuaca panas terus bertahan dan panen raya mencapai puncaknya. Ia merujuk pada catatan kelam empat tahun lalu, di mana harga garam sempat menyentuh level terendah Rp375 per kilogram.
Jika harga terus merosot hingga level tersebut, para petambak dipastikan tidak akan mampu menutup biaya operasional, terlebih bagi mereka yang mengolah lahan dengan sistem sewa.
“Kalau dipikir-pikir, untuk menutupnya tidak bisa apalagi untuk lahan sewa. Petani garam ini kelas menengah ke bawah, jadi untuk kebutuhan sehari-hari, untuk makan, untuk anak-anak sekolah saya kira masih minus,” imbuhnya.
Padahal, para petambak sempat merasakan angin segar ketika harga garam meroket hingga Rp2.500 per kilogram pada tahun 2025 lalu. Namun kini, bayang-bayang kerugian kembali mengintai para petambak di pesisir Pati akibat tiadanya intervensi harga. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













