LINIKATA.COM, PATI – Salah satu korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Gembong sempat tak sadarkan diri. Korban saat ini masih mendapatkan penanganan intensif di RSUD RAA Soewondo Pati.
Ibu korban, Andira, mengaku baru mengetahui anaknya menjadi korban dugaan keracunan sekitar pukul 10.00 WIB. Ia menyayangkan keterlambatan informasi tersebut karena peristiwa itu sendiri telah terjadi sejak pukul 08.30 WIB.
Mendengar kabar buruk itu, ia langsung bergegas ke rumah sakit dengan perasaan hancur. Betapa terpukulnya ia saat tiba di ruang perawatan dan mendapati anak perempuannya terbaring tak sadarkan diri dengan selang oksigen di hidungnya.
”Aku kan kerja shift malam, jadi nggak terlalu ngikutin berita, dan telepon yang aku terima itu sudah termasuk telat. Langsung ke sini, terus posisi anakku sudah ditangani, sudah dipasangin oksigen dan segalanya. Kondisinya sempat enggak sadar kemarin,” ungkap Andira dengan nada cemas, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Korban Dugaan Keracunan MBG di Gembong Pati Melonjak Jadi 424 Orang
Mengetahui Andira sudah menemani, dokter jaga lalu menyarankannya untuk mencoba berkomunikasi dengan sang anak. Stimulasi dari orang tua diharapkan mampu membangunkan kesadaran sang anak.
”Terus sampai dokternya bisikin, kayak coba diajak komunikasi, kayak ikatan batin, gitu kan,” katanya.
Benar saja, pendekatan emosional itu membuahkan hasil. Perlahan-lahan, tubuh sang anak yang semula sedingin es mulai menghangat, disusul tetesan air mata saat ia mulai sadar dari pingsannya.
”Dingin banget semuanya kan, terus sampai itu mulai hangat, terus dia ngeluarin air mata. Tapi katanya setelah sadar, tak tanyain, dia bilang, ‘berat, kayak nggak denger suara apa-apa, kayak hilang, hilang, hilang, langsung ada, hilang, ada,’ kayak gitu,” bebernya.
Menurut Andira, sebelum kejadian dugaan keracunan itu, kondisi anaknya sehat. Gejala itu baru dirasakan saat sore hari yang diikuti diare hingga mual-mual. Namun, paginya sang anak tetap memaksakan diri pergi sekolah.
”Sehat, sehat banget. Nggak ada gimana-gimana. Sore dia udah ngerasain kayak diare. Tiga kali diare, tapi nggak muntah, nggak bisa muntah, cuma mual. Paginya tetap sekolah, tapi waktu mau ke sekolah juga BAB lagi,” katanya.
Baca juga: Imbas Dugaan Keracunan MBG, Waka BGN Ancam Tutup SPPG Tak Layak di Rembang
Harapkan Evaluasi Total
Dengan kejadian tersebut, sang buah hati mengaku trauma. Namun, ia tidak mau memaksakan kehendak terkait program MBG di kemudian hari, serta menyerahkan keputusan tersebut kepada korban sendiri.
”Tadi anaknya bilang bikin trauma kayak gitu MBG-nya. Terus jadinya kita nggak bisa memaksakan dia antara mau makan lagi atau nggak kan,” jelas Andira.
Kini, Andira hanya bisa berharap ada evaluasi total pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia berharap tidak ada kecurangan sehingga menu yang diberikan kepada anak-anak benar-benar layak.
”Kalau aku sih gimana, ya banyak juga yang cari penghasilan di situ juga kan ya. Maksudnya sama-sama enak lah. Nggak ada kecurangan dari oknum-oknum atasannya terus benar-benar dipastiin itu layak untuk dikonsumsi anak, gitu aja,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














