LINIKATA.COM, PATI – Wajah Pendopo Kabupaten Pati berubah drastis di Hari Jadi ke-703 ini. Jika biasanya papan bunga warna-warni berjejer memadati pelataran, kini ribuan bibit pohon mengambil alih panggung perayaan sebagai media ucapan selamat.
Namun, di balik sejuknya pemandangan hijau dan misi ramah lingkungan tersebut, ada jeritan dari para pengusaha karangan bunga lokal. Kebijakan anyar ini seketika membuat dapur mereka ‘dingin’ akibat pesanan yang anjlok drastis.
Salah satunya Jelita Karangan Bunga. Pemilik usaha, Arrafi, mengaku pesanan di tempatnya merosot drastis hingga lebih dari 60 persen dibanding momentum perayaan tahun lalu.
”Turun lebih 60 persen. Dulu sehari bisa sampai 10 karangan bunga, sekarang cuma 3 karangan bunga,” ungkap Arrafi, Kamis (7/8/2026).
Baca juga: Hari Jadi Pati, Plt Bupati Pamer Kemiskinan Turun dan Perbaikan Jalan
Arrafi menyebutkan, tarif karangan bunga di tempatnya dipatok berkisar Rp300 ribu untuk bunga biasa hingga Rp550 ribu untuk bunga segar. Meski sudah berinisiatif menyediakan opsi bibit tanaman hias seharga Rp250 ribu hingga Rp300 ribu, pihaknya tetap kalah bersaing karena konsumen lebih memilih membeli langsung dari pembudidaya bibit.
”Sebenarnya ada opsi bibit hias, harganya Rp250 ribu dengan tulisan dan hiasan hingga Rp300 ribu tergantung kesulitan dan jenis bibit. Tapi belum dapat orderan, kebanyakan orang langsung pesan ke pembudidaya,” tambahnya.
Tekan Timbunan Sampah di TPA Sukoharjo
Penggunaan bibit pohon sebagai media ucapan selamat ini merupakan instruksi langsung dari Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra. Langkah strategis ini diambil guna menekan volume sampah sterofoam dan plastik bekas karangan bunga yang kerap menumpuk usai acara perayaan.
”Memang kemarin kami sarankan untuk ucapan Hari Jadi Kabupaten Pati kami mohon untuk ucapannya pakai bibit tanaman,” ujar Chandra.
Baca juga: Siap-Siap! Malam Minggu Ini Ada Kirab Budaya Hari Jadi ke-703 Pati di Alun-Alun
Chandra menilai keberadaan karangan bunga konvensional pada akhirnya hanya akan membebani Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukoharjo di Kecamatan Margorejo yang kapasitasnya semakin terbatas.
”Kalau ucapan pakai karangan bunga dan yang lainnya kebanyakan jadi sampah. Masalah sampah ini masalah kita semuanya. Tempat pembuangan sampah Kabupaten Pati juga limitnya terbatas,” tegasnya.
Seluruh bibit pohon yang terkumpul di Pendopo Pati nantinya tidak akan dibiarkan menumpuk, melainkan didistribusikan kembali ke sekolah-sekolah, madrasah, serta kawasan fasum yang membutuhkan penghijauan. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin













