LINIKATA.COM, KUDUS – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Kudus menunjukkan tren penurunan yang sangat positif dalam dua tahun terakhir. Berkat kolaborasi intensif antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus bersama Bakti Sosial Djarum Foundation dan MilkLife, kasus stunting di wilayah ini sukses ditekan drastis hingga menyentuh angka 3,04 persen.
Capaian membanggakan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, di sela-sela pembukaan MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (29/8/2026).
”Kami ucapkan terima kasih kepada Bakti Sosial Djarum Foundation. Angka stunting turun secara signifikan dari sebelumnya 4,08% menjadi 3,04%. Ini membuktikan bahwa program sejak 2024 ini memberikan dampak positif nyata,” puji Sam’ani.
Baca juga:
Jauh di Bawah Standar WHO
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, M.Si, Med, Sp.A, memaparkan bahwa posisi angka stunting Kudus saat ini sudah jauh melampaui standar batas maksimal World Health Organization (WHO) yang menetapkan angka toleransi di bawah 10 persen.
Dengan hasil positif ini, Pemkab Kudus semakin optimistis mampu mengikis habis kasus stunting secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
”Target secara bertahap di 2027 mencapai 2%, lalu menuju 0% sesuai target Pak Bupati di 2030. Selain intervensi gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sanitasi lingkungan serta pencegahan anemia melalui konsumsi protein hewani seperti daging merah dan ampela juga menjadi kunci penting,” terang dr. Hakam.
Baca juga:
Akselerasi Lewat Layanan Kesehatan Gratis
Guna mempertahankan tren penurunan angka stunting tersebut, Pemkab Kudus bersama Djarum Foundation terus menggencarkan intervensi langsung ke masyarakat. Salah satunya melalui perhelatan MilkLife Festival 2026 yang mengusung tema “Jaga Generasi Emas, Merdeka Lawan Stunting”.
Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto, menegaskan komitmen jajarannya untuk terus mengawal Kudus hingga bebas stunting (zero stunting) pada tahun 2030.
”Kami ingin Kudus menjadi salah satu kabupaten terbaik dalam penanganan kesehatan dan stunting. Kami ingin memberi kontribusi positif bagi warga Kudus karena kami lahir dan besar di sini,” kata Budiharto.
Selama festival berlangsung pada 29–30 Agustus 2026, warga disuguhi beragam akses layanan kesehatan inklusif secara gratis, mulai dari pemeriksaan kehamilan (USG), pemantauan tumbuh kembang balita, screening anemia remaja, pemeriksaan triple elimination, hingga konsultasi psikolog klinis.
Langkah ini menjadi puncak dari rangkaian edukasi di tingkat akar rumput yang sebelumnya telah melibatkan ribuan warga lewat program Rumah Resik Sehat (SIKAT) serta Belanja Pinter Gizine Bener (BPGB) di pedesaan. (LK6)
Editor: Ahmad Muhlisin













