LINIKATA.COM, KUDUS – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali melanjutkan ekskavasi fosil di Situs Ngasingan, kawasan Patiayam, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Memasuki tahun ketiga penelitian, tim peneliti berupaya mengungkap potensi peninggalan prasejarah yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah sekaligus memperkuat data ilmiah mengenai kehidupan purba di kawasan tersebut.
Ekskavasi yang dilakukan tahun ini masih difokuskan pada pencarian fosil gajah purba jenis Elephas. Lokasi Ngasingan dinilai memiliki potensi besar karena sejumlah fosil yang ditemukan pada penelitian sebelumnya berada dalam kondisi relatif utuh dengan perkiraan usia mencapai 500 ribu tahun.
Peneliti BRIN dan CPAS, Retno Ayunindya, mengatakan penggalian ini merupakan bagian dari penelitian berkelanjutan untuk mengungkap lebih banyak potensi fosil yang masih tersimpan di kawasan Ngasingan.
”Penggalian fosil gajah kembali dilakukan. Ini merupakan tahun ketiga kegiatan ekskavasi untuk menggali potensi fosil yang masih tersembunyi di lokasi Ngasingan. Temuan fosil gajah jenis Elephas ini diperkirakan berusia sekitar 500 ribu tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan masih ada temuan lain yang usianya lebih tua. Kami berharap penggalian ini dapat menghasilkan lebih banyak fosil yang menjadi bukti sejarah kehidupan masa lampau,” ujar Retno.
Baca juga: Upayakan Cagar Budaya Nasional, DPR dan MPR Tinjau Potensi Situs Patiayam
Rencana Pembangunan Museum Situs Ngasingan Patiayam
Selain memperkaya data ilmiah mengenai kehidupan purba, hasil ekskavasi juga diharapkan menjadi landasan pengembangan Situs Ngasingan sebagai pusat edukasi, penelitian, sekaligus wisata sejarah.
Ke depan, pemerintah bersama BRIN berencana membangun Museum Situs Ngasingan di kawasan Patiayam. Museum tersebut diharapkan menjadi destinasi wisata edukasi baru yang mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus pengembangan ilmu pengetahuan.
Dengan potensi temuan fosil yang masih besar, ekskavasi di Situs Ngasingan diharapkan terus mengungkap jejak kehidupan purba dan semakin memperkuat posisi Patiayam sebagai salah satu situs prasejarah penting di Indonesia. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin














