LINIKATA.COM, PATI – Ganasnya penyakit leptospirosis di Kabupaten Pati berujung fatal. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat sebanyak 21 warga dilaporkan meninggal dunia akibat terinfeksi bakteri Leptospira dari urine tikus sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Angka kematian ini terbilang sangat tinggi dan mengkhawatirkan. Sebagai pembanding, sepanjang 2025 lalu jumlah warga yang meninggal akibat penyakit ini sebanyak 17 orang. Tingginya angka kematian tahun ini berbanding lurus dengan ledakan total kasus yang hingga Mei kemarin sudah menembus 172 kasus.
Ketua Tim (Katim) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pati, Yanti, menegaskan bahwa jatuhnya korban jiwa ini rata-rata dipicu akibat keterlambatan pasien dalam menyadari gejala awal sehingga terlambat mendapatkan penanganan medis.
“Kematian akibat leptospirosis sebenarnya bisa dicegah apabila penderita mendapatkan penanganan secara dini dan sesuai standar. Karena itu jangan menunggu kondisi parah untuk berobat,” tegas Yanti, Rabu (24/6/2026).
Yanti mengimbau kelompok masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi di area basah—seperti petani, nelayan, dan pekerja tambak—untuk tidak meremehkan keluhan kesehatan fisik, sekecil apa pun itu.
Baca juga: Waspada Penyakit Kusta di Pati: Sampai Maret Ada 11 Kasus
Jangan Terkecoh Flu Biasa, Kenali Gejala yang Merusak Ginjal
Berdasarkan hasil evaluasi kasus fatal yang terjadi, banyak pasien meninggal dunia karena mengira hanya mengidap flu biasa, demam berdarah (DBD), atau tifus. Gejala awal penyakit ini memang mirip, berupa demam tinggi, mual, dan muntah.
Namun, masyarakat harus waspada jika gejala tersebut diikuti tanda-tanda klinis yang khas seperti nyeri hebat atau kekakuan pada otot betis, serta kondisi mata yang memerah atau berwarna kekuningan. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang cepat, bakteri akan menyerang organ vital dalam tubuh.
“Kalau sudah berat biasanya produksi urine berkurang karena ginjal mulai mengalami gangguan. Karena itu masyarakat yang mengalami gejala tersebut segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” jelas Yanti.
Baca juga: Waspada! 20 Warga Pati Terjangkit Chikungunya, Tersebar di 4 Kecamatan
Deteksi Dini dan Protokol Kebersihan Sawah-Tambak
Guna menyetop bertambahnya korban jiwa, Dinkes Pati saat ini terus memperkuat deteksi dini di tingkat puskesmas dengan menggandeng pemerintah desa dan kecamatan. Sosialisasi masif digencarkan agar masyarakat lebih disiplin memakai Alat Pelindung Diri (APD), minimal menggunakan sepatu bot saat beraktivitas di sawah atau tambak untuk menutup celah luka dari paparan air yang terkontaminasi.
Selain menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan sebelum makan dan menutup rapat wadah logistik, penanganan terhadap populasi tikus di lingkungan rumah juga wajib diperketat.
“Warga diminta segera mengubur atau membakar bangkai tikus dengan menyemprotkan disinfektan atau kaporit terlebih dahulu agar bakteri tidak menyebar ke sumber air,” pungkasnya. (LK1)
Editor: Ahmad Muhlisin















